Dalam sebuah kisah antara ayahanda Adam As, dan Ibunda Hawa, pasc mereka terusir dari jannah yang indah, lalu kemudian diturunkan kemuka bumi ini dengan kondisi terusir, sebab telah melanggar apa yang dilarang oleh Tuhannya. Kita semua tidak pernah tahu kepastian historis yang terjadi pada keduanya, tetapi teks-teks al-qur’an telah memberikan isyarat yang begitu sempurna, tentang drama perjalanan mereka.
Legenda tentang ayahanda Adam, dan Ibunda Hawa pada kenyataannya merupakan bentuk pencarian jati diri untuk mencapai kesempurnaan pada Robnya. Bertahun-tahun ayahanda Adam, mencari Bunda Hawa, begitu pula sebaliknya, begitu sedih dan pilu yang tak terhingga menjalani sepinya waktu dalam kesendirian. Oleh sebab itu dalam konstek saat ini, pada kenyataannya memiliki kesamaan dalam ruang, waktu dan objek ang berbeda.
Ayahanda Adam dan Ibunda Hawa merupakan contoh yang sangat dramatis, romantic, dinamis dan penuh dengan teka-teki dalam setiap langkah perjalanannya, mereka bergerak dengan penuh cinta dan kasih sayang tak terbatas. Perjalanan mereka begitu jauh nan panjang, sehingga begitu rindunya ayahanda maupun ibunda Hawa untuk berjumpa. Air mata tiada henti mengalir dari kedua bola mata dua insane yang berupaya tiada henti untuk bersua. Dalam setiap langkahnya, sesekali mereka berenti dan mendongakkan kepala, sambil berucap: ya Ilahi kami mohon ampun dan bukakanlah pintu taubat bagi kami yang seluas-luasnya, terhadap apa yang pernah kami lakukan, karena tergoda oleh syaithon yang terkutuk.
Tandusnya padang pasir, dan ilalang yang bergoyang, tidak menyurutkan semangat mereka dalam proses pencarian, seakan tandusnya geogrfis didaerah timur tengah menjadi saksi bisu atas perjalanan mereka, tiada kata menyerah bagi mereka, bergerak dan berjalan, mencari dan terus mencari dalam hitungan hari yang tak terhingga, untuk melepaskan kerinduan yang begitu mendalam, sebab perpisahan menjadi hal yang menyakitkan bagi kita semua, anak cucu adam dan ibunda Hawa.
Tanpa terasa waktu terus bergulir, ayahanda dan ibunda Hawa terus berjalan menyusuri lembah, gunung, dan bebatuan yang terjal, hanya dalam kerangka ingin berjumpa dengan sang kekasih jiwa, yang entah dimana ia berada. Mereka tak mengenal lelah meski sinar mentari menyengat kulit, dan dinginnya hujan membasahi daun-daun, sebab cinta menjadi keyakinan yang terpatri dalam dada.
Keyakinan untuk berjumpa dengan Ibunda Hawa begitu kuat dalam hati, siapapun tak ada yang bias menghentikannya, kecuali nyawa terpisah dari raga. Bertahun-tahun keduanya saling mencari untuk melengkapi kekurangan yang ada dalam diri, untuk saling berbagi, dan saling mengasihi, didalam proses tersebut air mata, jiwa, emosi, mental menjadi taruhan dalam sebuah kisah, itulah fakta bahwa semua makhluk yang bernama manusia harus melalui tangga proses pencarian keutuhan jiwanya yang hilang.
Dimana ada perpisahan, maka disitu akan muncul suatu pertemuan, dan sang waktu masih memberikan peluang terhadap ayahanda Adam untuk menyatukan cintanya pada Ibunda Hawa, sehingga keduanya diyakini sebagai manusia pertama dimuka bumi ini yang saat ini sudah mencapai jutaan manusia yang terdiri dari laki-laki dan perempuan yang merupakan bagian dari scenario Ilahiah dalam proses melanjutkan kehidupan dimuka bumi ini.

0 komentar:
Post a Comment