Showing posts with label Life Style. Show all posts
Showing posts with label Life Style. Show all posts

Rakyat Harus Jeli Menentukan Pemimpin, Tolak Penghianat Rakyat

Jakarta - Demokrasi liberal yang dianut di Indonesia memberikan ruang yang seluas-luasnya kepada warga negara dalam menentukan pilihan politik, baik itu untuk memilih dan juga dipilih. Mereka yang memilih sebagai pemilih/konstituen memiliki tanggungjawab dalam menentukan pemimpin yang akan dipilih. Sedangkan mereka yang menginginkan jadi pemimpin harus berpolitik dalam rangka menarik hati rakyat agar dipilih sebagai pemimpin. Pilihan kedua merupakan pilihan yang sulit karena menyangkut dengan tanggungjawab dan kepercayaan.

Sistem politik di Indonesia sangat didominasi oleh partai politik. Bagi mereka yang menginginkan menjadi pejabat legislatif dan eksekutif harus memiliki dukungan secara politik, dan otomatis mereka harus masuk ke dalam salah satu parpol sebagai kendaraan. Parpol merupakan alat dalam mekanisme perpolitikan di Indonesia. Tanpa melalui partai politik mereka akan sulit masuk pertarungan politik dalam rangka merebut kekuasan.

Sebagai alat dalam merebut kekuasaan, partai politik sangat memberi pengaruh besar dalam menentukan seorang calon yang akan menduduki posisi tertentu. Dengan mekanisme dan aturan sedemikian rupa partai politik memiliki arti penting dan sangat menentukan dalam memilih figur atau calon dalam memperebutkan jabatan tertentu. Maka parpol sebagai pintu utama perebutan kekuasaan memiliki legitimasi yang sangat kuat dalam menentukan calon pemimpin yang baik dan sebaliknya.

Para pekerja politik atau politisi merupakan figur yang memiliki semangat menggenggam kekuasaan. Berpolitik adalah sebuah pilihan dari keinginan berkuasa. Politisi sebagai calon pemimpin yang akan diberi mandat oleh rakyat dalam menentukan nasib rakyat kedepan sangat diharapkan mampu mengemban amanah tersebut. Harapan kepada calon pemimpin adalah kesejahteraan hingga ketenangan batin, karena sebagai penguasa mereka memiliki legitimasi dalam menentukan kebijakan-kebijakan yang bersangkutan dengan kehidupan umum dalam berbangsa dan bernegara.

Berpolitik bila mengacu kepada arti sebenarnya seperti yang disampaikan Aristoteles yakni jalan untuk memberikan kesejahteraan kepada rakyat, maka berpolitik merupakan perjuangan yang mulia. Tetapi dalam kenyataannya, masyarakat masih banyak bersifat apolitis dikarenakan ulah politisi tersebut yang tidak bisa amanah terhadap kepercayaan rakyat. Politisi dianggap sebagai sekumpulan orang yang hanya menebar janji dengan kepentingan berkuasa. Mereka akan melakukan apapun demi memegang kekuasaan.

Sikap apatis terhadap politik tersebut merupakan kerugian bagi jalannya demokrasi di negeri ini. Masyarakat seharusnya menjadi policy terhadap kekuasaan tetapi dengan sikap apolitisnya tersebut akan memberikan ruang yang lebar bagi politisi dalam melakukan kesewenang-wenangan ketika memimpin. Ditambah dengan sistem politik dan hukum yang masih di carut marut dan belum bisa menjadi benteng kejujuran.

Kekuatan politik di negeri ini sangat dominan dalam melakukan legitimasi kekuasaan. Hukum masih menjadi bulan-bulanan akibat kekuatan politik yang hampir tidak terbatas. Kesewenang-wenangan penguasa seringkali diakibatkan oleh lemahnya hukum terhadap mereka yang memiliki posisi politik yang kuat. Hal inilah yang menjadikan politisi sulit dikontrol kekuasaannya karena menganggap dirinya kuat dan sulit tersentuh hukum.

Rakyat sebagai pemilih sangat menentukan para politisi yang akan menjadi figur pemimpin baginya. Pemimpin sebagai sebuah amanah harus diberikan kepada figur yang tepat dan tidak akan berkhianat terhadap amanah rakyat dan konstitusi. Mereka harus menjadi figur yang benar-benar meperjuangkan rakyat. Semakin banyaknya politisi yang melakukan pelanggaran hukum ini harus menjadi acuan bagi rakyat dalam menentukan pemimpin masa depan. Rakyat harus sadar bahwa kemarin kita banyak melakukan kesalahan dalam memilih pemimpin maka nanti harus lebih hati-hati dalam memberikan pilihan.

Banyaknya pejabat negara yang tersangkut masalah hukum bahkan amoral ini menunjukkan bahwa banyak dari politisi kita yang hanya ingin merebut kekuasaan demi ambisi pribadinya. Korupsi yang merajalela, penyalahgunaan wewenang, dan sebagainya tersebut memberikan sinyal yang sangat jelas bahwa politisi sangat rentan dengan pelanggaran hukum dan konstitusi. Politisi masih banyak yang memiliki mental rampok dan hanya peduli dengan misi pribadi dan mengabaikan amanah rakyat.

Masalah yang seringkali menjerat pejabat kita adalah korupsi. Ini menunjukkan mental politisi kita adalah perampok, yang menjadikan jabatan sebagai jalan untuk mengeruk keuntungan. Hal ini sangat bertolak belakang dengan cita-cita politik yang berfungsi sebagai alat untuk mensejahterakan rakyat. Politisi semacam itu hanya akan memberikan kesengsaraan kepada rakyat dan patut mendapatkan hukuman baik pidana maupun hukum sosial.

Masyarakat harus jeli dalam melihat persoalan ini dengan adanya politisi yang hanya menjadikan rakyat sebagai komoditi politik demi kepentingan berkuasa untuk mencapai ambisi pribadinya. Politisi yang hanya tebar pesona demi mendapatkan antusiasme masyarakat tetapi tidak berjuang untuk rakyat. Politisi semacam itu adalah politisi busuk dan harus ditolak karena sangat merugikan rakyat, bangsa dan negara. Kekayaan negara yang seharusnya untuk kepentingan rakyat pasti akan dijadikan untuk kepentingan pribadi atau kepentingan golongannya.

Dengan adanya keterbukaan informasi seperti sekarang ini masyarakat harus jeli dan tidak tertipu dengan adegan-adegan politisi di banyak media. Karena selain hukum yang harus menjadi pilar utama dalam membentengi kekuasaan, masyarakat juga harus proaktif dalam mengawasi bahkan mengkritik kekuasaan. Penguasa atau politisi yang selama ini hanya menjadikan kekusaannya sebagai pemuas ambisinya harus diberi rapot merah dan ditolak tegas karena sangat merugikan rakyat.

Hukum di negeri ini masih belum bisa seperti yang kita harapkan bersama. Hukum adalah satun-satunya rumah untuk mencapai keadilan, tetapi hukum terlalu lemah ketika berhadapan dengan mereka yang memiliki harta dan juga kekuasaan. Kekuasaan yang sering disalahgunakan oleh politisi kita merupakan karena hukum yang masih tebang pilih. Hukum masih hormat kepada mereka yang punya kekuasaan, dan penguasa seringkali menjadikan hukum sebagai permainan.

Antara politik dan hukum bagaikan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Seperti adagium dari Mochtar Kusumaatmadja bahwa hukum tanpa kekuasaan adalah angan-angan, kekuasaan tanpa hukum adalah kelaliman. Adagium tersebut secara sederhana namun tepat menggambarkan betapa erat kaitan antara kekuasaan dan hukum. Kekuasaan merupakan salah satu unsur dari politik, yaitu mengenai proses mendapatkannya. Sedangkan hukum merupakan suatu produk yang diidealkan sebagai konsensus (kecuali hukum dari raja, yang bukan merupakan suatu konsensus) yang dihasilkan dari proses-proses politik dan dikukuhkan dengan kekuasaan yang diperoleh juga dari proses politik.

Hubungan yang tidak dapat dipisahkan ini tidak terlepas dari hakikat bahwa hukum dan politik sama-sama merupakan sub-sistem sosial kemasyarakatan, yang merupakan sistem yang terbuka, sistem yang satu mempengaruhi sistem lainnya. Politik sebagai ajang untuk mendapatkan kekuasaan tersebut harus menjadi memiliki policy yakni hukum, agar politik tidak keluar dari relnya. Politik yang akan selalu berjalan beriringan tersebut diharapkan mampu membentengi kekuasaan dari sikap mensalahgunakan kewenangan.

Lemahnya hukum yang ada di negeri ini tidak mungkin mampu menjadi benteng tunggal dalam menjaga kekuasaan agar tidak melanggar aturan-aturan yang ada. Terlalu banyaknya politisi yang melanggar hukum menunjukkan politisi tidak taat dengan hukum, mereka meremehkan hukum sebagai sebuah institusi yang lemah dan bisa dipermainkan semau mereka. Persoalan ini sangat merugikan rakyat, dan sama sekali tidak akan memberikan perubahan ke arah yang lebih baik terhadap masyarakat.

Dengan keadaan yang seperti itu, harapan yang paling mungkin adalah kepada rakyat itu sendiri. Dalam artian rakyat menjadi pilar utama dalam menjadi benteng keadilan dan penegakan hukum. Bila hukum konstitusi sulit diharapkan, maka hukum sosial harus menjadi garis depan dalam mengawal kebijakan-kebijakan di negeri ini.

Politisi yang tidak lagi peduli dengan kepentingan rakyat, hanya menjadikan rakyat sebagai komoditi, memiliki moral yang lemah sebagai publik figur, dan sebagainya harus dilawan dengan kekuatan sosial dan ditolak sebagai calon pemimpin bangsa ini. Masyarakat harus bisa memetakan mana dari mereka yang serius mengawal kepentingan rakyat dan mana yang telah menghianati rakyat. Tolak politisi busuk!!!

*) Farhan Effendy, S. Fil. MAP adalah Dewan Pakar Nusantara sekaligus pengurus DPP Partai Demokrat. sumber.detik

SBY Digoda Bintang Porno

Akun resmi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, @SBYudhoyono, yang Sabtu pekan lalu baru dilansir. , rupanya kehadiran akun tersebut langsung mendapat reaksi dari Bintang porno asal Norwegia, Vicky Vette.     
Dalam kicauannya, perempuan yang pernah tampil dalam film horor berbumbu seks, Pacar Hantu Perawan, itu menggoda SBY dengan kicauan pertamanya seperti ini, "@SBYudhoyono ..... hi #sexy xo." Sapaan menggoda itu ditulisnya pada Sabtu (13/4/2013).

Merasa tak direspons, Vicky tak patah arang. Ia lagi-lagi berkicau di hari yang sama. "@SBYudhoyono .... follow me back so we can chat by personal message xoxo."
Kicauan Vicky rupanya tak membuat pemilik akun @SBYudhoyono meresponsnya. Ia pun lantas melontarkan kekecewaannya. "Sad @SBYudhoyono hasn't followed me yet, maybe he doesn't like my movies... :("

Menanggapi "godaan" Vicky melalui mention di Twitter, Staf Khusus Presiden bidang Komunikasi Politik, Daniel Sparringa, menegaskan tidak ada alasan yang khusus mengapa yang ini atau yang itu dibalas sendiri oleh Presiden SBY atau staf.

"Walau demikian, saya tidak terkejut kalau Presiden SBY mengabaikan beberapa (mention) di antaranya karena pertimbangan relevansi isinya," kata Daniel ketika dikonfirmasi Tribunnews.com, Senin (15/4/2013).

Menurut Daniel, selain tidak mungkin semuanya dijawab, sebagian memang tidak perlu untuk dijawab Presiden SBY.

"Presiden SBY memang ngetweet dari iPad dan iPhone-nya," kata Daniel.

Ditegaskan kemarin Presiden SBY memang menyempatkan diri untuk membalas mention secara agak acak dari followers-nya yang menyapa. "Dua di antaranya berasal dari Aceh dan Papua. Yang dari Aceh bahkan dijadikan berita oleh media setempat," kata Daniel.

Mengenai Vicky Vette, sosok perempuan berambut pirang dan panjang ini memang dikenal luas sebagai bintang film dewasa berdarah Norwegia. Bahkan, sebelum menggoda SBY, dia pernah menggoda pesepak bola Andik Vermansah pada turnamen Piala AFF 2012 lalu di Malaysia karena permainan bolanya yang menawan.

Bahkan, Vicky berjanji akan mencium Andik bila kembali berhasil mencetak gol ke gawang lawan.

Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring juga pernah digoda ketika ribut mengenai sikap Tifatul yang tidak mau bersalaman dengan Ibu Negara Amerika Serikat Michelle Obama waktu Michelle ke Jakarta tahun lalu. 

Editor : faisal
Sumber : Kompas.com

Tips Sukses Membangun Bisnis Resto di Amerika Serikat

Washington DC {javainfonews} Membangun bisnis resto dikota besar memang tak semudah yang kita bayangkan, butuk tips dan trik untuk bisa sukses. Apa saja tips sukses membangun bisnis restoran di Amerika Serikat? Apa saja langkah-langkah praktisnya?

Jawaban atas pertanyaan tersebut dibahas dalam bincang-bincang bertajuk “A-Z Langkah Praktis Membangun Bisnis Restoran” di KBRI Washington, D.C, seperti disampaikan Sekretaris II Pensosbud KBRI Washington .

Pengusaha sukses restoran dari diaspora Indonesia membagi tips dan pengalaman dalam mengembangkan bisnis restoran hingga sukses. Mereka yang saling berbagi tidak lain adalah Yono Purnomo, seorang chef terkemuka di wilayah upstate New York dan sekaligus pemilik restoran “Yono’s”, mewakili pengusaha restoran fine dining Indonesia.

Daniel Kurniawan, menjadi salah satu contoh sukses yang mewakili pengusaha pemegang franchise (restoran Arby’s) sekaligus pendiri restoran sendiri “Gachi Sushi House”.

Sementara itu, Made Yata, merupakan salah satu contoh sukses usaha bisnis fast food dengan 4 buah restoran fast food yang dimilikinya yang disebut Bistro 7 di Atlanta dan Charlotte.

“Saya ingin tiga pengusaha restoran tersebut menginspirasi diaspora Indonesia lainnya untuk membangun restoran Indonesia di AS,” ujar Dubes RI Dr. Dino Patti Djalal dalam sambutan pembukanyanya.

Menurut Dubes, impiannya sejak awal yang sampai saat ini belum tercapai adalah melihat berkembangnya restoran Indonesia, termasuk fine dining, di Amerika.

“Oleh karena itu, salah satu tujuan program ini adalah untuk mendorong kewirausahaan diaspora Indonesia di AS, khususnya keberanian untuk mencoba, mengambil risiko dan kemauan untuk berubah menjadi lebih baik,” demikian Dubes.

Membangun bisnis restoran, termasuk restoran Indonesia memang bukan langkah mudah. Riset, pemahaman kondisi lokasi dan selera konsumen, menetapkan target, kreativitas, dan tak kenal menyerah meskipun gagal, menjadi beberapa hal yang mengemuka dalam bincang-bincang tersebut.

Lalu apa sajakah tips sukses mereka?

Bagi Made Yata, yang telah berkali-kali jatuh bangun dalam menggeluti bisnis restoran selama hampir 20 tahun, assessment terhadap kemampuan, menetapkan target dan juga kemauan untuk mencari pengalaman dan pelajaran dari bisnis yang dijalankan orang lain menjadi beberapa hal penting yang perlu selalu diingat.

“Kalau anda gagal dan gagal terus dalam mencoba, jangan menyerah untuk mencoba lagi sampai menemukan hal yang benar-benar anda merasa pas dan puas. Jangan pernah takut gagal. Yang penting juga, milikilah mimpi besar,” papar Made Yata.

Mimpi dan kemauan serta kegigihan juga menjadi tips penting yang disampaikan oleh Chef Yono.

“Sky is the limit, jangan lupakan kreativitas, inovasi dan pahami apa yang disukai oleh konsumen dan belajar dari kegagalan,” pesan Chef Yono yang pernah tampil di berbagai program TV di Amerika, seperti Today’s show dan juga Food Network. Restoran fine dining miliknya “Yono’s” menyajikan makanan Indonesia dengan gaya ala makanan Perancis.

Daniel Kurniawan memberikan tips khusus untuk mengawali bisnis baik melalui program franchise maupun membangun restoran sendiri. Pahami kondisi lingkungan bisnis, kenali kendala dan keuletan untuk mendalami program-program bantuan pemerintah AS untuk kelompok minoritas yang dapat dijadikan modal dasar membangun dan mengawali bisnis.

Restoran franchise Arby’s yang dikelolanya pada tahun 2012 menjadi salah satu restoran kategori non-traditional yang meraih pemasukan terbesar, yaitu lebih dari US$ 2,5 juta per tahun.

Diskusi ini juga dihadiri oleh National Director Minority Business Development Agency (MBDA) Davis Hinson, yang memberikan paparan tentang program bantuan MBDA bagi kelompok minoritas, termasuk diaspora Indonesia di AS.

MBDA adalah salah satu program di bawah pemerintahan Presiden Obama untuk mendorong kewirausahaan bagi golongan minoritas, termasuk memfasilitasi mereka untuk memperoleh kontrak dan permodalan.

Lebih dari 50 diaspora Indonesia yang tinggal di Washington DC, Maryland dan Virginia larut dan antusias mengikuti diskusi interaktif tersebut. Selain diskusi, para peserta juga diajak untuk belajar memasak dan menyajikan makanan Indonesia lamb rack with gulai sauce dan filet mignon dengan rawon yang didemonstrasikan oleh Chef Yono.

Peserta menyatakan program workshop dan diskusi seperti ini merupakan hal yang mereka tunggu dan memberikan manfaat dalam memperluas wawasan sekaligus memicu mereka untuk dapat mengembangkan bisnis.

Diakui, keberadaan restoran Indonesia memang masih sangat sedikit di Amerika, apalagi jika dibandingkan dengan restoran Thailand, Vietnam, Jepang dan China. Perlu dorongan dan juga kemauan tinggi untuk mengejar ketertinggalan ini.

Diskusi ini merupakan bagian dari kegiatan diaspora to diaspora --semacam capacity building-- untuk mendorong semangat kewirausahaan konkret diaspora Indonesia di AS.

Editor : Fai
Sumber : detiknews

Tanggapan Pramono, Soal Capres dari Partai Demokrat

Jakarta {javainfonews} Konvensi calon presiden Partai Demokrat (PD) mulai dibahas. Politisi PDIP Pramono Anung memberikan tanggapan, konvensi PD bisa mengalihkan perbincangan publik dari korupsi yang banyak dilakukan kader PD.

"Saat ini ruang Publik Partai Demokrat didominasi urusan korupsi. Mungkin ada baiknya kini urusan demokrasi," ujar Wakil Ketua DPR dari PDIP ini, kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (15/4/2013).

Konvensi PD akan dapat menarik pandangan publik kepada proses demokrasi di partai berlambang Mercy itu. Meski bersikap apresiatif, namun Pramono memandang cara konvensi adalah pilihan PD, dan partai-partai lain tentu punya cara berlainan merekrut tokoh.

"Semua partai punya cara untuk merekrut anggotanya. Partai yang mengadakan konvensi, pasti akan dapat ruang publik cukup besar," tuturnya.

Konvensi PD turut diperbincangkan dalam pertemuan kader PD di Cipanas. Rencananya, mekanismenya akan dijalankan semi terbuka. Artinya, setiap orang yang mendaftar harus menyetujui kesepakatan di Partai Demokrat.

Editor : fai
sumber : detik

SBY Demonstrasikan Keahliannya Memasak Nasi Goreng Didepan Dubes

Ciapanas {Javavews}Susilo Bambang Yudhoyono dan istrinya memperlihatkan keahliannya memasak nasi goreng dengan resep rahasia ala SBY di hadapan para duta besar negara sahabat.di Cipanas, Sabtu.

Hasil masakannya kali ini akan dicicipi para diplomat dan keluarganya yang berjumlah sekitar 200 orang.

Ibu Negara Ani Yudhoyono yang mengenakan baju lengan pendek warna merah dan bercelemek dengan gesit menghancurkan bumbu-bumbu tradisional.

Beberapa menit kemudian, bumbu siap dan dimasukkan ke penggorengan. Keduanya`bergotong royong` mengolah bumbu dalam penggorengan.

Setelah harum bumbu tercium, nasi pun dimasukkan. Presiden juga memasukkan tiwul (makanan khas jawa dari singkong).

Selang berapa lama, setelah diaduk dalam penggorengan di atas tungku arang yang menyala, nasi siap disajikan. Para dubes pun dipersilakan mencicipi nasi goreng a la SBY. 

Menurut Juru Bicara Presiden Julian Aldrin Pasha, nasi goreng ala Presiden ini lezat. "Memang enak sekali rasanya," katanya.

Namun sayang, sebelum sempat mencicipi para wartawan diminta kembali ke media centre.

Dalam diplomatic gathering ini setidaknya 90 dubes negara sahabat dan perwakilan organisasi internasional hadir bersama keluarganya.

Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa berterimakasih kepada para dubes yang telah hadir, sekaligus Presiden Yudhoyono yang bersedia menjadi tuan rumah.

Ia berharap acara ini mempererat persaudaraan dan kemitraan antarnegara sahabat.

Tipologi kepemimpinan di Indonesia (jelang pemilu 2014)

Membahas tentang kepemimpinan di era sekarang ini adalah hal yang sangat menarik, terutama di Indonesia. Sebab, saat ini jelas di Indonesia sedang mengalami krisis kepemimpinan. Mengapa demikian? Karena seperti yang kita lihat dan ketahui sendiri, bahwasannya presiden Indonesia saat ini tidak mampu menunjukkan jiwa kepemimpinannya terhadap rakyat. Banyak yang mengatakan bahwa presiden kita hanya banyak berwacana, lebih mementingkan citra, dan tidak pro terhadap rakyat.

Tidak bisa kita pungkiri, bahwasannya rakyat Indonesia sangat merindukan pemimpin yang memang siap memasang badan untuk kemajuan bangsa. Seperti Bung Karno, yang memang kita ketahui beliau sangat disegani baik di luar maupun di dalam negeri. Memiliki kecerdasan untuk memberikan gagasan-gagasannya untuk kemajuan bangsa, juga mengaplikasikannya secara nyata. Begitu pula dengan pak Harto, walaupun di akhir kariernya beliau sebagai presiden amat sangat tragis, akibat sistem pemerintahannya yang terlalu diktator dan penuh dengan praktek KKN, sejatinya saat kepemimpinan beliau banyak kebijakan-kebijakan yang diperjuangkan untuk kesejahteraan rakyat.
Sebenarnya, tidak banyak gunanya membincangkan kriteria dan syarat-syarat pemimpin. Para filsuf dan penulis Muslim sejak Abu Hasan Al-Mawardi pada abad ke-20 telah membicarakan syarat-syarat ideal bagi seorang pemimpin politik. Kriteria dan syarat-syarat pemimpin adalah tema klasik dalam filsafat politik.

Berbeda dengan para ilmuwan politik modern yang lebih suka membahas tentang tipologi atau tipe-tipe kepemimpinan dibandingkan membahas soal syarat-syarat seorang pemimpin. Contohnya Herbert feith, sarjana politik asal Australia ini, meneliti tentang politik Indonesia dan menemukan dua tipe kepemimpinan politik yaitu, apa yang dia sebut dengan tipe “pengelola” (administrator) dan tipe “pemersatu” (solidarity maker).

Menurut Feith dalam bukunya yang berjudul “The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia” (1962), pemimpin tipe pengelola adalah mereka yang memiliki kemampuan teknis dalam mengatur negara. Tipe ini dijelaskannya, umumnya diwakili oleh tokoh-tokoh terdidik yang menguasai suatu bidang tertentu. Sementara pemimpin dengan tipe pemersatu adalah orang-orang yang memiliki kemampuan untuk mendekati massa, mempengaruhi mereka, serta mendapatkan dan dukungan dari mereka.

Feith menganggap pemimpin seperti Muhammad Hatta sebagai tipe pengelola, sementara pemimpin seperti Soekarno sebagai pemimpin bertipe pemersatu. Feith juga menjelaskan bahwa dua tipe kepemimpinan ini jarang bercampur pada diri satu orang. Pemimpin pemersatu biasanya cakap dalam mengumpulkan pendukung, namun ketika sang pemimpin memimpin sistem pemerintahan, dia gagal dan kerap mengecewakan. Sebaliknya, pemimpin bertipe pengelola, dia cakap dalam mengelola sistem pemerintahan, tapi kurang mendapatkan dukungan dari rakyat. Hal ini terjadi karena sang pemimpin kurang menguasai retorika atau kurang memiliki kecakapan yang cukup untuk mendekati massa. Namun, memang disayangkan bahwasannya sangat jarang ada pemimpin yang memiliki kecakapan dua hal itu sekaligus dalam tubuh satu orang.

Selain Herbert Feith, ada satu ilmuwan lagi yang membahas tentang tipe-tipe kepemimpinan politik di Indonesia. Dialah William Liddle. Ilmuwan politik asal Ohio State University ini memperkenalkan dua tipe kepemimpinan Indonesia sejak awal kemerdekaan Indonesia. Yaitu tipe “Transformasional” (transforming leader) dan tipe “transaksional” (transactional). Dalam makalahnya, “Marx atau Machiavelli” (2001), Liddle menjelaskan, yang dimaksud dengan tipe transformasional adalah pemimpin yang mampu membentuk ulang situasi politik Indonesia dari satu keadaan ke keadaan yang lain. Sementara tipe transaksional adalah model kepemimpinan yang mempergunakan kekuasaannya untuk ditukar (barter) dengan posisi-posisi yang dapat menguntungkan dirinya dan kelompoknya. Menurut Liddle, bung Karno adalah jenis pemimpin transformasional karena telah mengubah Indonesia dari fase penjajahan ke fase lainnya yaitu fase kemerdekaan. Namun, Liddle membatasi bahwa karakter transformasional bung Karno hanya terjadi sejak awal kemerdekaan hingga tahun 1949. Setelah itu, bung Karno tidak lagi memiliki visi transformatif. Seperti yang saya tulis di awal, bahwasannya pak Harto dalam tingkatan tertentu juga memiliki karakter transformasional, dimana beliau berusaha mengubah kondisi Indonesia lewat proyek pembangunan dan modernisasi di Indonesia.

Sementara itu, untuk pemimpin berkarakter transaksional di Indonesia nampaknya amat banyak contohnya. Sebut saja Gus Dur, SBY, dan lainnya. Menurut Liddle, tokoh-tokoh ini adalah tokoh berkarakter transaksional yang mempertukarkan kekuasaannya dengan posisi-posisi yang dapat menguntungkan dirinya dan kelompoknya. Seperti yang kita ketahui, GusDur adalah ulama NU dan pemimpin partai, sedangkan SBY adalah anggota TNI dan juga pemimpin partai serta pernah menjadi pembantu presiden (menteri).

Lewat tipologi-tipologi yang dikatakan oleh Herbert Feith dan William Liddle, kita bisa menganalisa tentang karakter kepemimpinan dengan hanya melihat dari pemahaman praktis. Memang di era seperti sekarang ini, politik pencitraan untuk dapat memperoleh elekstabilitas seorang pemimpin tidak terlalu berpengaruh dan sangat merugikan negara. Mengapa demikian? Karena yang dibutuhkan seorang pemimpin adalah kemampuan untuk melakukan pembangunan yang akan dapat mensejahterakan rakyat dan menjadi contoh yang baik di masyarakat. Apabila seorang pemimpin hanya mementingkan politik pencitraan tanpa ada bukti nyata akan pembangunan pada masa kepemimpinannya, rakyat yang cerdas pastilah paham apa maksud dari orang ini untuk maju menjadi seorang pemimpin.

Saat ini mungkin Indonesia sedikit dihiburkan dengan munculnya pemimpin yang bisa dibilang kompeten dan dapat bersinergi dengan setiap wilayah yang dipimpinnya. Yaitu Joko Widodo. Pengusaha mebel dari kota Solo Yang saat ini menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta ini, bisa dikatakan memang memiliki kapasitas untuk menjadi seorang pemimpin. Selain memiliki gagasan yang sederhana dan lebih banyak bertindak dibanding mementingkan citra, beliau adalah pemimpin yang dicintai rakyat karena tindakan nyatanya untuk membangun kesejahteraan dan memiliki pembawaan diri yang sederhana. Bisa dikatakan bahwa fakta di lapangan adalah bukti akan kepemimpinannya.

Bila kembali membahas tentang karakter kepemimpinan di Indonesia menurut Herbert Feith, mungkin saya bisa memasukan seorang Joko Widodo ini termasuk dalam dua karakter kepemimpinan yang dimaksud oleh Feith, yaitu tipe pengelola dan tipe pemersatu. Karena Jokowi telah membuktikan beliau dapat memimpin sebuah sistem pemerintahan yang baik saat menjadi walikota Solo dan melakukan gebrakan di birokrat pemprov DKI Jakarta di awal kepemimpinannya menjadi Gubernur DKI Jakarta. Sedangkan untuk tipe pemersatu, Jokowi telah terbukti dapat menjadi rekan yang baik di masyarakat dengan terus melakukan kebijakan-kebijakan yang pro terhadap rakyat. Selain itu, attitude Jokowi yang Low Profile, telah memikat banyak rakyat untuk mendukungnya. Pada kasus ini, kita bisa contohkan ketika Pilkada DKI Jakarta 2012 Jokowi bisa mengalahkan Fauzi Bowo yang notabenne adalah calon Incumben, memiliki basis pendukung yang banyak di DKI, mendapatkan dukungan dari banyak partai, serta warga asli Jakarta. Namun, bila kepemimpinan Jokowi tidak konsisten dari Ikrar awalnya, mungkin saja citranya sebagai pemimpin akan jatuh dan tidak akan mendapatkan kepercayaan lagi dari rakyat. dan yang paling penting, tipe-tipe kepemimpinan yang telah kita bahas yang menobatkan Jokowi sebagai contoh nyata sebagai pemimpin yang baik, pasti akan terhapuskan.

Dari contoh diatas kita bisa menilai bahwa konkret dalam melakukan kebijakan adalah hal yang penting dalam elekstabilitas seorang pemimpin. Karena bila kita telah melakukan suatu urusan dan itu bisa diselesaikan dengan baik, maka kepercayaan orang terhadap diri kita akan meningkat. Namun, sekali saja kita tidak dapat menjalankan amanah dengan baik, jangan harap akan ada feedback yang baik dari rakyat kecuali dengan cara-cara picik dan diktator.
Itulah pembahasan singkat tentang tipologi kepemimpinan di Indonesia. Sebagai warga negara yang mencintai tanah airnya, sudah sepantasnya kita sangat mengharapkan akan hadirnya sosok-sosok pemimpin yang siap berada di garis paling depan dan memiliki mental revolusioner untuk membawa negeri ini kearah yang lebih baik.

MERDEKA!!!!!!

Ditulis Oleh: Muhammad Ahsan (Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta, Ka.Bid PTKK HMI Komisariat Cireundeu, SekJen HIMAPOL FISIP UMJ)

Keunikan Eyang Subur Versi Adi Bing Slamet

Adi Bing Slamet mengadukan perseteruannya dengan Eyang Subur ke Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat pada Kamis (11/4/2013) siang. Di dalam forum itu, Adi yang mengaku kenal dengan Eyang Subur sejak tahun 1995 itu pun memaparkan sejumlah praktik dan keyakinan Eyang Subur yang dinilainya sebagai ajaran sesat.

"Istri dan anak-anak bilang semua yang diajarkannya sesat. Jadi, saya ingin sekali orang yang bernama Subur ini diperhatikan karena sudah membahayakan.Eyanf Subur selalu memakai istilah eyang Gaib untuk memperdaya mangsa-mangsanya.

Perkenalan dengan Eyang Subur, Adi mengaku selalu dicekoki kopi hitam dan kopi manis. Kopi hitam dan kopi manis itulah yang disebut Adi sebagai ritual untuk mempengaruhi logikanya. "Saat saya datang ke rumah Eyang Subur di Tanjung Duren itu ramai sekali, banyak artis karaokean, rumahnya penuh kristal," ucap mantan bintang cilik tempo dulu ini.

Adi pun tak menggubris keanehan saat pertama kali datang ke rumah Eyang Subur. Adi hanya berusaha berpikir positif bahwa pengalamannya bertemu Eyang Subur akan memberikan pencerahan dan ketenangan dalam hidupnya. "Dia (Eyang Subur) pun mengaku lebih tua dari Nabi Adam. Jadi, umurnya sudah ribuan tahun. Eyang Subur, kata Adi, juga mengaku mampu memilih pejabat negara.

Selain itu, lanjut Adi, Eyang Subur juga mengaku bisa menghentikan Lumpur Lapindo. "Sekarang bisa itu si Subur dites. Kalau tidak bisa, langsung saja kita benamkan ke lumpur itu," ujar Adi gusar.

Eyang Subur juga mengajarkan, shalat dan puasa tidak wajib untuk dilaksanakan. Sebagai guru spiritual, Eyang Subur diakui Adi cukup banyak memiliki istri. Saat ini, Eyang Subur memiliki delapan istri.
"Saya juga diajak mabuk-mabukan, dikasih minuman. Katanya kalau joget, biar nggak malu-maluin. Sejak kenal Eyang Subur, saya jadi sering dugem. Jadi, saya memohon ke Komisi III untuk mencarikan solusi untuk Eyang Subur ini," kata Adi.

Adi pun mengatakan Eyang Subur gemar bermain togel, tetapi tidak menggunakan uangnya. "Biasanya ada orang lain yang disuruh untuk memasangkan nomor togel untuk dia," ucap Adi.
 
Adi mengaku rela membeberkan aib dirinya dan sang istri agar masyarakat tak lagi terperdaya dengan tipu muslihat yang digunakan Eyang Subur. "Biarlah ini menjadi aib kami saja, semoga tidak ada lagi yang ditipu di kemudian hari,"
 
Sumber : Kompas.com
Editor   : Faisal

Rahasia Memilih Kopi yang Enak


jika kita pergi ke supermarket untuk membeli kopi, pasti kita akan dihadapkan pada begitu banyak jenis dan merek yang justru membuat kita bingung memilih kopi yang paling enak. Untuk menjawab kebingungan tersebut, Clarissa Halim, Product Development and Advertising Department PT JJ Multi Utama Indonesia (distributor JJ Royal Coffee), mengungkapkan rahasianya untuk Anda.

Orang mungkin akan tertarik membeli kopi setelah menghirup aromanya yang legit dan wangi. Menurut Clarissa, rasa kopi dapat dikatakan enak ketika kopi telah diseduh dan kita mencium aroma seduhan tersebut. Namun hal ini mungkin tidak bisa kita lakukan ketika kita ingin membeli kopi bubuk di supermarket.

"Tapi ada cara lain untuk memilih kopi yang enak. Cium wanginya, ada rasanya atau tidak, dan bagaimana pengemasan bungkus yang dipakai," jelas perempuan pecinta kopi ini kepada Kompas Female, di Restoran Harum Manis, Apartemen Pavilion, Jakarta, Kamis (11/4/2013).

Ia menambahkan, kopi yang berkualitas didukung oleh pengemasan bungkus yang menarik dan benar. Penggunaan material bahan pengemasan juga bisa memengaruhi aroma dan rasa kopi di dalamnya. Kopi yang enak biasanya dibungkus dalam aluminium oil sehingga oksigen tidak dapat masuk ke dalam ruang kopi tersebut.

"Kalau bungkusnya sudah dari plastik, itu menunjukkan bahwa kualitas kopi itu tidak bagus, kenapa? Karena plastik mengizinkan oksigen untuk masuk ke dalam ruang kopi sehingga membuat kopi menjadi tidak enak. Musuh besar kopi yang sudah disangrai itu oksigen, dan kopi juga tidak boleh dimasukkan ke dalam kulkas. Sebaiknya ditempatkan pada ruangan dengan suhu sejuk," tambah perempuan ramah ini.

Setelah mengetahui cara memilih kopi yang berkualitas kita juga sebaiknya tahu batas pemakaian kopi itu. Clarissa mengatakan, meski kopi tidak memiliki tanggal kadaluarsa, alangkah baiknya jika kopi yang sudah dibuka kemasannya dikonsumsi dalam seminggu. Pasalnya, kopi yang terlalu lama disimpan akan memberikan pengaruh pada kualitas kenikmatan kopi itu.

"Memang sih tidak semua orang minum kopi setiap hari. Oleh sebab itu, dengan adanya kemasan sachet dari JJ Royal Kopi Tubruk Specialty Grade 1, maka kualitas kopi tetap bisa bertahan kenikmatannya, karena kopi pada kemasan sachet tetap tersimpan baik dalam bungkus yang berkualitas tinggi," tandasnya.

Surat Cinta Dari Sang Pelacur

Hari-hari dilalui dengan canda, tawa, dan tangis yang kerap datang setiap saat. inilah panggung sandiwara yang penuh dengan warna cerita, tiada pernah diundang maupun mengundang. sudah cukup lama dunia hitam digeluti, dengan berbagai bentuk alasan yang beragam, tetapi secara esensial, hanya untuk memenuhi perut yang keroncongan.

Bila malam menjemput, berharap para tamu datang dengan sebotol anggur, dan membokingnya ketempat yang romantis, sehingga berbagai persoalan peliknya kehidupan mampu terhapus dalam dinginnya malam. inilah fakta kehidupan, “Ujar sang pelacur”. dengan seteguk anggur bukan berarti nurani diam, atau sumringah, namun jeritan tanpa suara, melantunkan ayat-ayat penyesalan.

Tuhan…kami tidak sedang berjalan atas keinginan dan kehendak kami, tetapi fakta sunyi dari sulitnya ekonomi, yang terus memaksa untuk mengurangi derai air mata, yang kerapkali menjadikan anak-anak kami terlantar dan putus sekolah, dan hidup yang serba kekurangan memaksa kami untuk berbuat sesuatu. kami tak peduli itu semua dihalalkan ataupun diharamkan, diperbolehkan atau dilarang.
Disinilah kami mengerti mana yang hitam, dan mana pula yang putih, dan disini pula kami menghargai akan upaya-upaya, sebagai bentuk tanggung jawab. andai saja ada yang lebih baik, barangkali sudah lama kami tinggalkan profesi kupu-kupu malam, yang kerjanya hanya pindah dari kumbang yang satu ke kumbang yang lain.

Dosakah kami atas perbuatan ini, ketika hal itu menjadi satu-satunya pilihan dalam bertahan, kami bukan penjudi, tidak pula sedang korupsi, tetapi kami hanya melacurkan diri untuk sesuap nasi.

Agama dan Toleransi Keberagamaan

System kepercayaan dan bentuk dari pemahaman kepercayaan itu, tentu termanifestaskan dalam bentuk tindakan sehari-hari, mengingat agama menjadi penyejuk, penenang dalam membina, mengarahkan dan menjadi ummat yang penuh dengan cinta kasih. Semua agama dan unsure-unsurnya, akan selalu mengajarkan hidup damai, rasa toleransi kepada ummatnya, sehingga agama menjadi pedoman dan aturan yang mengikat bagi pemeluk-pemeluknya.

Akhir-akhir ini tragedy memilukan pecah kembali didaerah sampang-madura, jawa timur, tepat pada hari minggu 26 agustus 2012, yang menelan dua korban tewas, dan 5 orang terluka. Bentrok yang dilatarbelakangi unsure pemahaman keagamaan antar kelompok Syiah dan Ahlussunnah Wal Jama’ah kembali terkuak pada ranah publik, banyak para pihak yang menyayangkan insiden tersebut, mengingat bangsa ini, sudah acapkali diklaim sebagai bangsa yang intoleransi dengan mengatasnamakan agama. Kembalinya tragedy berdarah tersebut menjadi sorotan public yang cukup tajam, karena unsure keagamaan dan keberagaman menjadi factor yang cukup sensistif, sementara pada sisi yang lain, bahwa factor keagamaan teramatlah kuat mempengaruhi terhadap pemahaman dan keyakinan dari masing-masing kelompok.

Berangkat dari anak didik dari kelompok Syiah yang hendak diberangkatkan untuk menuntut ilmu ke jawa tengah dan daerah bangil, ditengah perjalanan kelompok syiah dihadang oleh sekelompok masyarakat yang mengatasnamakan kelompok sunni atau ahlussunnah wal jama’ah, kemudian kelompok Syiah diarak sampai kekampung halamannya oleh kelompok sunni, disitulah kemudian terjadi pergolakan antara dua kelompok mayoritas dan kelompok minoritas.

Menurut Guru Besar Unversitas Muhammadiyah Malang, Syamsul Arifin, Bahwa dalam setiap konflik yang melibatkan dua kelompok agama dan paham keagamaan, variabel agama selalu hadir didalamnya. Variabel itu adalah dialektika antara agama sebagai doktrin dan agama sebagai konstruksi, yakni agama sebagaimana dipahami oleh para pemeluknya. Sementara itu antara doktrin dan pemahaman terhadap doktrin adalah dua hal yang sulit untuk dipisahakan satu sama lain. Kendati agama bersumber dari realitas absolute yang tunggal (Tuhan), toh dalam realitas sejarah dan social, agama telah hadir dalam beragam bentuk seperti yang terlihat dalam banyaknya (nama) agama dan paham keagamaan. (Jawa Pos, Rabu, 29 agustus 2012, Hal. 04). Doktrin agama dan doktrin tentang pemahaman keagamaan inilah yang kemudian suatu kelompok memiliki pandangan dan keyakinan berbeda antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain. Dua kelompok yang berbeda satu sama lain, pada hakekatnya memiliki argumentasi yang kuat dalam menjalankan aktivitas keber”agama”an dan paham keagamaannya, sehingga disitulah kemudian adanya Truts claim, kelompok yang satu dengan kelompok yang lainnya. Dalih pembenaran yang dilontarkan oleh kelompok yang satu dengan kelompok lain, tentu memiliki alasan kuat dalam perbedaannya, sehingga hal itu mengandung dua sisi yang controversial.

TOLERANSI PEMAHAMAN KEAGAMAAN

Agama secara universal dipahami sebagai bentuk kepercayaan yang diyakini datang dari Tuhan dan bersifat absolute, sehingga termanifestasikan dalam doktrin pemahaman pemeluknya dan terintegralisasi dalam aktvitas sehari-hari. Dampak dari semua itu adalah saling pembenaran pada setiap kelompok dengan masing-masing pemahaman yang beragam. Secara esensial agama khususnya Islam, tetap yang menjadi pedoman adalah al-qur’an dan al-hadis. Dua pusaka tersebut secara menyeluruh menjadi pedoman dalam menjalankan peraturan yang terkandung didalamnya, sementara itu perbedaanya adalah terletak pada penafsiran dan pemahaman dari masing-masing kelompok yang berseteru, sehingga anggapan yang muncul baik dari kelompok mayoritas dan kelompok minoritas adalah claim kebenaran yang masing-masing ditonjolkan, karena hal itu menjadi sebuah keyakinan yang sangat sensitive keberadaannya.

Sunny dan Syiah adalah dua kelompok yang bisa hidup berdampingan pada hakekatnya, cuman ketika perbedaan antar perseorangan yang kemudian dibombardir dengan mengatasnamakan isu agama, inilah yang kemudian tidak dibenarkan oleh kelompok manapun, sehingga sangat naïf, perbedaan pribadi yang disangkutpautkan atas nama agama, yang berdampak pada sisi humanisnya.
Sejumlah tokoh sangat menyayangkan tragedy yang hanya dipicu oleh dua bersaudara, yaitu Tajul Muluk yang berpaham Syiah, dan Rois yang berpaham Sunni. Berangkat dari konflik pribadi itulah yang kemudian diatasnamakan kelompok, sehingga terjadilah bentrok untuk kesekian kalinya.
Pentingnya toleransi dan pemahaman keagamaan antar dua kelompok yang bersitegang, menjadi keharusan untuk menjaga harmonisasi dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan beragama, sehingga akan tercipta suatu kerukunan antar perbedaan yang akan menuai keindahan dalam keberagaman. “Tragedy yang terjadi di Sampang Madura, diminta kepada jajaran penegak hukum, baik kepolisian, kejaksaan, mahkamah agung, untuk benar-benar menegakkan hukum secara tegas dan adil. Kalau tidak tegas dan adil, itu memancing hal serupa dimasa yang akan datang”. papar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). (Kompas, Selasa, 28 Agustus 2012). Oleh karenanya semua unsure dalam proses penegakan hukum harus benar-benar dituntaskan, dan pelaku terhadap mencuatnya tragedy tersebut harus diadili dan dihukum sesuai dengan perbuatan provokatifnya dalam mengarahkan massa, sehingga terjadi bentrok berdarah. Hal yang demikian perlku untuk diantisipasi sejak dini, sehingga kedepan tragedy yang serupa tidak terjadi lagi dibelahan nusanatara ini.

Untuk mengantisipasi hal serupa terulang kembali, Pertama meningkatkan rasa toleransi antar dua kelompok yang bersitegang, Kedua meningkatkan pemahaman pada masing-masing kelompok, bahwa agama bukanlah untuk melakukan anarkisme, seperti yang terjadai pada waktu kemarin. Ketiga agama atau system kepercayaan yang bersumber dari Tuhan yang maha kuasa, bukanlah barang jualan yang kemudian dijadikan alat untuk mencapai ambisi politik mupun kekuasaan, namun agama adalah seperangkat keyakinan untuk penyejuk jiwa, dan menenangkan batiniah seseorang. Kelima semua pihak yang terkait maupun yang bertanggung jawab atas tragedy tersebut, untuk menyegerakan berupaya dalam proses penyadaran pada semua unsure yang bersitegang, bahwa agama bukanlah barang mainan, yang seenaknya dijadikan bahan isu maupun fitnah bagi kepentingan-kepentingan satu, maupun segelintir orang. Faisol

Korupsi Yang Menggurita

Pada pertengahan bulan agustus, negeri ini sudah dikejutkan oleh persoalan korupsi yang menjadi sorotan public dan sangat mengecewakan masyarakat secara umum, kenapa tidak, tertangkapnya hakim adhoc yang melilit hakim Kartini Juliana Magdalena Marpaung, yang bertugas di PN Semarang, dan hakim Heru Kisbandono, tertangkap oleh petugas KPK tepat pada hari kemerdekaan bangsa ini, sehingga public sangat dikejutkan oleh persoalan amoral yang dilakukan oleh dua hakim dalam upaya-upaya pembebasan terhadap tersangka Yaeni.

Mudahnya akses informasi dan komunikasi, rupanya telah membentuk jejaring para koruptor untuk bisa mengamankan situasi dan kondisi, serta membebaskan para terdakwa dari kasus-kasus yang melilit para koruptor dibelahan negeri ini, terbukti dengan tertangkapnya dua hakim adhoc kemaren menambah trust public terhadap kredibilitas dan integritas dari lembaga penegak hukum menjadi pudar. Kartini yang bertugas di PN kota semarang dan Heru kisbandono yang menjadi hakim adhaoc dikota Pontianak, ternyata mampu menggunakan akses informasi yang begitu cepat dan mudah untuk menggelabui masyarakat, bahkan ironisnya dua terdakwa Tindak Pidana Korupsi (TIPIKOR) tersebut sudah berulang kali membebaskan terdakwa.

Korupsi yang melibatkan pejabat pemerintah dipengadilan menjadi hujatan yang menyakitkan ditengah carut-marutnya kondisi bangsa. Keterpurukan semakin menjadi-jadi pasca reformasi 1998, dan sebagian besar masyarakat menjadi oportunis dengan perilaku para wakilnya dikursi pemerintahan, sehingga control terhadap birokrasi pada akhirnya menjadi lemah, dan terkesan hanya menjadi rutinitas yang seolah-oleh tidak penting. Sementara itu kekuasaan hanya menjadi ajang memperkaya diri para birokrasi, tanpa memikirkan kepentingan rakyat secara menyeluruh, sehingga system yang dibangun pemerintah dengan agenda pembangunan infrastruktur dibeberapa daerah menjadi ajang rebutan antara pihak legislative, ekskutif, maupun para pejabat yang terkait, hal tersebut dalam rangka memenangkan tender dan menjadi lahan basah untuk melakukan penyelewengen.

Suap menyuap apakah sudah menjadi tradisi atau memang keberadaannya melanggar kode etik? Yang pasti apapun bentuknya suap-menyuap adalah sesuatu yang melanggar peraturan dan merugikan rakyat. Oleh karenanya lemabaga yang berwenang seperti KPK, MA, dan Pengadilan Negeri, merupakan lemabaga yang murni berpihak pada kebenaran, bukan justru sebaliknya, dengan melakukan intrik politik dalam rangka mengamankan para terdakwa, seperti kasus memalukan yang terjadi pada hakim adhoc (Kartini Juliana Magdalena Marpaung), yang bertugas di PN Semarang,dan Heru Kisbandono yang bertugas di PN Pontianak, keduanya tertangkap oleh petugas KPK pada 17 Agustus 2012.

SISTEM KORUPSI

Meski sudah 67 tahun Indonesia sudah mencapai kemerdekaannya, pasca proklamasi pada tanggal 17Agustus 1945, namun berbagai persoalan bangsa ini tak bisa dihindari satu sama lain, terutama ketika membicarakan pada konstek korupsi yang menggurita. Kasus korupsi menjadi sesuatu yang sangat esensial untuk dituntaskan, sebab korupsi telah mengantarkan negeri tercinta ini pada situasi yang terpuruk, dan berdampak pada stabilitas system ekonomi Negara.
Dengan kondisi yang semakin memeperparah kondisi bangsa, dan mencuatnya para koruptor membebaskan diri dari jerat hukum, ini kemudian menjadi tanda Tanya terhadap hukum yang dibangun di Indonesia. Hukum yang semestinya menjadi keranda bagi kematian moral bejat para koruptor, justru sebaliknya, hokum menjadi mainan politik dan intrik dari penguasa untuk mlanggengkan kekuasaan, sehingga hokum hanya dijadikan alat untuk melakukan upaya-upaya melakukan kejahatan yang dibangun secara masiv, structural, konstitusional, dan terlembagakan dipemerintahan.

Korupsi telah menjadi penyakit kronis yang perlahan akan menghancurkan bangsa ini, coba kita review kembali kasus-kasus korupsi yang banyak dipolitisir dalam kerangka proses pengamanan pejabat pemerintah, dan hal itu sudah menggurita, dan terkesan tidak ada ketegasan dari pemerintah untuk melakukan upaya-upaya pembersihan terhadap para tersangka, maupun terdakwa yang masih tetap bisa menjabat, meski kasus korupsi telah melilitnya. Tidak heran kalau kemudian ada sejumlah tokoh yang menyatakan bahwa bangsa ini, sudah menjadi “bangsa wani piro”, disitulah kemudian ada upaya transaksional antara orang yang berkepentingan dengan para hakim untuk sebuah pembebasan dari kesalahan yang fatal. Maraknya korupsi yang tak kunjung ada penyelesaiaannya, seperti Kasus bank century, wisma atlet hambalang, korupsi pengadaan al-qur’an, dan masih ratusan kasus korupsi yang tidak perlu untuk disebutkan, telah menjadi sarang yang menakutkan bagi situasi dan kondisi bangsa ini.

System korupsi terus dibangun secara apik dan sistematis oleh para koruptor, calon koruptor, dan generasi yang akan menjadi koruptor, sehingga pada masing-masing lembaga pemerintahan, system itu terus berlangsung, dan sangat merugikan rakyat. Hanya saja para koruptor tidak secara terbuka membangun sekolah atau pendidikan tinggi berbasis koruptif, dan tanpa ideology sebagai upaya proses regenerasi.
Kerugian Negara telah mencapai triliunan rupiah yang dikeruk oleh para koruptor untuk memperkaya diri dan hidup sejahtera, serta sebagai upaya untuk pensiun dini, hal ini pada hakekatnya sudah melanggar sisi kemanusiaan secara social, dan melanggar kode etik secara konstitusional kenegaraan. Maka oleh sebab itu sangat perlu hukuman social itu, seperti yang diungkapkan oleh Kacung Marijan (Guru Besar Universitas Airlangga) yang menyatakan “hukuman social bagi para koruptor, adalah dengan memperlakukan pejabat pemerintah yang menjadi koruptor dengan melakukan pekerjaan kasar, misalnya kepala daerah yang jelas sudah melakukan korupsi, maka harus dihukum menjadi pekerja social dikantor yang pernah ia pimpin, misalnya dengan memakai baju sebagai narapidana dan bertuliskan koruptor, membersihkan kantor, toilet, dan lain sebagainya”. (Kompas, 24 agustus 2012). Hukuman semacam itu, tidak boleh dianggap remeh, karena korupsi dinegeri ini sudah menjadi mental yang buruk bagi keberlangsungan kehidupan pemerintahan, sehingga system dan praktik korupsi di berbagai instansi pemerintahan tidak bisa dibiarkan, atau memberikan toleransi sedikitpun kepada para calon, atau generasi para koruptor.

Dengan demikian praktek dan system korupsi yang sudah menjadi akar yang melilit pada lembaga pemerintahan, atau sudah menjadi virus, sekaligus menjadi racun yang mematikan bagi keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara ini, harus dicegah sedini mungkin, mengingat dampak dari korupsi tersebut, melemahkan system Negara secara ekonomi, dan secara umum merugikan rakyat Indonesia. Oleh karenanya lembaga yang berwenang dan pihak penegak hukum harus proaktif dalam proses menuntaskan kasus-kasus korupsi, sehingga dalam triwulan harus ada laporan yang jelas dari intstansi pemerintah, dalam proses penanganan kasus kronis yang terlembagakan.
 
Support : Creating Website | Faisal Akhmad | Mas Template
Copyright © 2011. JavaNews - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger