“Sesungguhnya
Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah
keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (ar-Ra’du:11)
Pengertian Motivasi
Secara
umum motivasi adalah dorongan yang besar dalam diri untuk mencapai
sesuatu yang diimpikan, dan motivasi merupakan salah satu fenomena
psikologis yang ada dalam diri setiap manusia. Setiap person memiliki
daya dan kekuatan dalam diri yang mendorong diri tersebut untuk
melakukan tindakan, sementara tindakan tersebut, berangkat dari alam
pikiran yang terkonstruk dalam tiap-tiap pikiran diri kita sendiri,
sehingga manusia sebagai makhluk individual pada satu sisi dan sebagai
makhluk social pada sisi yang lain, tentu membutuhkan orang lain dalam
kerangka saling membutuhkan satu sama lain.
Sedangkan menurut Gray (dalam Winardi, 2002) motivasi
merupakan sejumlah proses, yang bersifat internal, atau eksternal bagi
seorang individu, yang menyebabkan timbulnya sikap antusiasme dan
persistensi, dalam hal melaksanakan kegiatan- kegiatan tertentu.
Morgan (dalam Soemanto, 1987) mengemukakan bahwa motivasi
bertalian dengan tiga hal yang sekaligus merupakan aspek- aspek dari
motivasi. Ketiga hal tersebut adalah: keadaan yang mendorong tingkah
laku (motivating states), tingkah laku yang di dorong oleh keadaan tersebut (motivated behavior), dan tujuan dari pada tingkah laku tersebut (goals or ends of such behavior).
McDonald (dalam Soemanto, 1987) mendefinisikan motivasi sebagai
perubahan tenaga di dalam diri seseorang yang ditandai oleh dorongan
efektif dan reaksi- reaksi mencapai tujuan. Motivasi merupakan masalah
kompleks dalam organisasi, karena kebutuhan dan keinginan setiap anggota
organisasi berbeda satu dengan yang lainnya. Hal ini berbeda karena
setiap anggota suatu organisasi adalah unik secara biologis maupun
psikologis, dan berkembang atas dasar proses belajar yang berbeda pula
(Suprihanto dkk, 2003).
Soemanto (1987) secara umum mendefinisikan motivasi
sebagai suatu perubahan tenaga yang ditandai oleh dorongan efektif dan
reaksi-reaksi pencapaian tujuan. Karena kelakuan manusia itu selalu
bertujuan, kita dapat menyimpulkan bahwa perubahan tenaga yang memberi
kekuatan bagi tingkahlaku mencapai tujuan,telah terjadi di dalam diri
seseorang.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi
adalah energi aktif yang menyebabkan terjadinya suatu perubahan pada
diri seseorang yang nampak pada gejala kejiwaan, perasaan, dan juga
emosi, sehingga mendorong individu untuk bertindak atau melakukan
sesuatu dikarenakan adanya tujuan, kebutuhan, atau keinginan yang harus
terpuaskan.
Dengan
demikian motivasi adalah sebuah pertautan antara pikiran, emosi atau
perasaan yang merupakan bentuk tingkah laku dalam diri dalam bentuk dua
hal yang tidak bias terpisahkan satu sama lain, yaitu perilaku negative
atau perilaku positif. Oleh karenanya salah satu cara membentuk energy
yang mendorong diri untuk melakukan hal-hal yang positif adalah.
a. Niat yang tulus dan ikhlas
b. Semangat untuk melakukan perubahan horizontal dan vertikal
c. Meminimalisir rasa putus asa dalam diri
d. Berbekal pengetahuan
e. Berbekal jaringan
f. Berbekal financial
Setiap Manusia Adalah Pemimpin
Sebenarnya
Banyak sekali para ahli dan pakar pengetahuan dalam istilah managemen
kepemimpinan, mereka memiliki beberpa pendapat dimana pada prinsipnya
sama, walaupun ada perbedaan dalam pemahaman namun bahwa pada dasarnya,
Keepemimpinan dan sifat-sifat yang ada dalam jiwa kita perlu kita
kembangkan. karena itu adalah potensi sebagai manusia yang merupakan
Makhluk Ciptaan Tuham. Bakat kepemimpinan itu sebenarnya tidak
dilahirkan. Bakat tersebut muncul melalui keterampilan yang terus diasah
dan ditumbuhkembangkan. Memang, ada pemimpin yang hanya fasih
berbicara. Namun sebelumnya, kalu ia tidak memiliki ilmu, ia tidak
sering berlatih, maka bisa jadi kata-katanya terpeleset pada kesalahan.
Seseorang
dikatakan memiliki jiwa kepemimpinan, bila kita dapat melihat
kematangan pribadi dan karyanya. Ia memiliki visi yang sangat jauh ke
depan. Ia mampu menggali dan mensinergikan potensi. Ia juga mampu
memotivasi, baik lewat keteladanan, maupun kata-katanya yang arif. Ini
semua didapatkan melalui latihan-latihan yang memakan waktu cukup lama.
Untuk
tampil menjadi seorang pemimpin, kita perlu mempunyai kesempatan
merenungkan dan mempelajari lingkungan sekitar. Langkah awal yang perlu
ia lakukan adalah membaca potensi dirinya. Setelah potensi diri dapat
terbaca, baru meluaskan pengaruh dengan melihat potensi di luar dirinya.
Potensi-potensi, ini, kalau tidak terbaca, suatu saat kelak akan tetap
terpendam dan makin tak tergali. Padahal setiap orang di sekitar kita
mempunyai pengalaman dan mempunyai masa lalu.
Mereka yang pernah mengalami kegagalan di masa lalu, Langkah pertama
sesungguhnya merupakan aset yang berharga, karena dengan bercermin dari
kegagalan masa lampau, mereka akan lebih berhati-hati berusaha.
Artinya, seorang pemimpin itu pada dasarnya adalah orang yang selalu
belajar dan terus mengembangkan kemampuannya.
Langkah kedua,
dengan menanamkan program “bening hati” pada diri kita. Kebahagiaan
hidup dan kesuksesan hidup itu sebenarnya didirikan di atas pondasi
kemuliaan akhlak. Semua ini diupayakan melalui pembinaan yang sistematis
dan berkesinambungan.
Langkah Ketiga,
yaitu dengan memelihara sistem kondusif saat mengembangkan kedua
langkah tadi. Lingkungan sekitar memberi pengaruh yang dominan bagi
kita. Teman dan saudara dapat menjadi pendorong, pemberi semangat,
memberi masukan dan kritikan saat kita berusaha bangkit dan berusaha
menjadi lebih baik.
Langkah keempat,
yang patut benar-benar kita perhatikan sesudah ketiganya terpenuhi,
ialah membangun kekuatan diri dengan kekuatan ruhiyah, karena dengan
kekuatan ini kita punya sandaran yang teguh, kokoh, dan Maha Kuat, yaitu
Allah SWT. Setiap ada kesulitan sekecil apa pun, sebesar apapun, akan
ringan kalau dikembalikan pada-Nya. Mudah-mudahan kita akan
dibimbing-Nya untuk tahu bagaimana mendayagunakan amanah yang kita
tanggung.
Demikian
kiranya semoga artikel ini dapat memberikan wawasan dan pengetahuan
bagi kita, dan kita selalu berharap nahwa Allah selalu bersama kita.
Peran dan Fungsi Manusia
a. Manusia sebagai Abdullah
Sebagai
seorang hamba, tentu manusia harus tunduk dan patuh terhadap sesuatu
yang menjadi kehendak Tuhannya, apa yang menjadi perintahnya menjadi
suatu kewajiban untuk dilakukan, dan sebaliknya apa yang menjadi
larangannya juga diharapkan untuk dijauhi.
Manusia
sebagai Abdullah memiliki arti bahwa manusia diciptakan Allah sebagai
Hamba-Nya. Sebagai hamba, manusia adalah kecil dan tidak memiliki
kekuasaan. Oleh karena itu, tugas manusia sebagai Abdullah Allah
hanyalah menyembah, beribadah dan berpasrah diri kepada-Nya.[1]
Dengan
demikian meskipunsebagai orang hamba, tetapi manusia juga diperintahkan
muntuk melakukan upaya-upaya perubahan, baik dalam rangka meningkatkan
kualitas diri secara personal dan bersama-sama untuk meningkatkan
kemampuan dan mengembangkan setiap potensi yang ada dalam diri.
b. Manusia sebagai kholifah fil ard
Esensi
dari penciptaan manusia adalah sebagai seorang pemimpin dalam mengelola
alam semesta ini, sebagai creator kedua setelah Tuhan, maka manusia
memiliki tanggung jawab yang besar untuk mengarahkan, mengembangkan dan
menjadikan kehidupan didunia ini saling berbagi dan saling mengasihi
satu sama lain.
Sebagai
khalifah, manusia diberi tangung jawab pengelolaan alam semesta untuk
kesejahteraan umat manusia, karena alam semesta memang diciptakan Tuhan
untuk manusia. Sebagai wakil Tuhan manusia juga diberi otoritas
ketuhanan; menyebarkan rahmat Tuhan, menegakkan kebenaran, membasmi
kebatilan, menegakkan keadilan, dan bahkan diberi otoritas untuk
menghukum mati manusia. Sebagai hamba manusia adalah kecil, tetapi
sebagai khalifah Allah, manusia memiliki fungsi yang sangat besar dalam
menegakkan sendi-sendi kehidupan di muka bumi.[2] Manusia
dengan makhluk Allah lainnya sangat berbeda apalagi manusia memiliki
kelebihan-kelebihan yg tidak dimiliki oleh makhluk yg lain salah satunya
manusia diciptakan dgn sebaik-baik bentuk penciptaan namun kemuliaan
manusia bukan terletak pada penciptaannya yg baik tetapi tergantung
pada; apakah dia bisa menjalankan tugas dan peran yg telah digariskan
Allah atau tidak bila tidak maka ia akan dimasukkan ke dalam neraka dgn
segala kesengsaraannya.
c. Manusia sebagai An-nas (makhluk sosial)
Agama
Islam mengatur hubungan kita dengan Allah dan juga kepada sesama
manusia. Tidak bisa dipungkiri kita hidup di tengah-tengah lautan
manusia, dan ternyata berhubungan dengan manusia itu tidaklah mudah,
yang baik menurut pendapat kita belum tentu baik menurut pendapat orang
lain. Tindakan dan cita-cita kita yang mulia pun belum tentu dapat
diterima orang lain dengan baik, pada dasarnya setiap tindakan kita
kalau dipandangnya merugikan untuk dirinya, niscaya akan dihambatnya.
Manusia
bisa menguntungkan, bisa juga merugikan bagi kita, mau menyingkir dari
ikatan pergaulan manusia tidaklah mungkin, terlalu banyak bergaul dengan
manusia juga bukan berarti tak ada resikonya, resiko itu bisa berakibat
baik atau buruk terhadap kita.[3]
Maka
Allah mengajarkan kepada manusia lewat Rasullullah, bagaimana cara
menghadapi dan hidup di tengah-tengah manusia, yaitu disuruh
melindungkan dirinya kepada Allah, karena Allah sebagai Rabbun Nasi
(Pemelihara manusia), Malikun Nasi (Penguasa manusia), dan Ilahun Nas
(Tuhannya manusia).
Allah
adalah Rabbun, Malikun, Ilahun Nasi. Allah adalah Pemelihara, Penguasa,
dan Tuhan nya manusia. Allah adalah KHALIQ, pencipta alam semesta ini,
termasuk manusia adalah ciptaanNya.
Manusia
dalam kehidupan sehari hari selalu hidup dalam suatu pergaulan, maka
diberikanNya akal dan budi, sehingga manusia dapat merencanakan hidup
ini apa yang akan diperbuatnya di dunia ini sampai nanti meninggalkan
dunia ini. Namun Allah tidak membiarkan begitu saja manusia hidup semau
maunya saja.
d. Manusia sebagai al-insan (makhluk individu)
Sebagai
makhluk individual, sejatinya manusia memiliki kompleksitas persoalan
dalam kehidupannya, sehingga tidak bisa dipungkiri manusia memiliki
kecenderungan yang berbeda-beda dalam kehidupan sehari-hari. Berkaitan
manusia sebagai makhluk individu pada satu sisi, tentu sudah dijelaskan
dalam pedoman yang berbentuk al-qur’an dan al-hadis sebagai petunjuk
bagi ummat manusia.
Surat
Al Insaan menerangkan bahwa setelah manusia diciptakan, manusia diberi
petunjuk untuk mencapai kehidupan yang sempurna, ada yang mengingkari
dan ada yang tidak mengikutinya, ganjaran bagi mereka yang mengikuti dan
ancaman bagi mereka yang tidak mengikutinya.[4]
e. Manusia sebagai al basyar (makhluk biologis)
Definisi Al-basyar secara bahasa berarti fisik manusia. Makna inidiabstraksikan dari berbagai uraian tentang makna Al-Basyar tersebut. Diantaraadalah maqayis fi al-lighah, yang menjelaskan bahwa semua kata yang huruf-huruf asalnya terdiri dari huruf ba, sein dan ra berarti sesuatu yang nampak jelasdan biasanya cantik dan indah, Al-Ragib al-Asfahaniy, dalam kitabnya mujammufradat Alfa al-Qur’an, menjelaskan bahwa kata al-basyar adalah karenakulitnya nampak jelas. Menurut M. Quraish shihab, adalah karena nampak dengan
berbeda dengan kulit binatang yang ditutupi dengan bulu-bulu. Berbagai
daiuraian di atas memberikan pengertian bahwa penekanan makna kata al-basyar adalah sisi fisik manusia yang secara biologis memiliki persamaan antara seluruhumat manusia.[5]
f. Manusia sebagai bani adam
Selain
keistimewaan yang sempurna, Allah juga menaklukan berbagai binatang,
sehingga bisa dijadikan tunggangan oleh manusia, dan manusia bisa
melakukan perjalanan di daratan dunia ini dengan mudah. Kemudian Allah
juga menaklukan semua makhluk yang ada di dunia, baik benda hidup maupun
benda mati, sehingga manusia dapat mengarungi lautan dengan perahu yang
dibuatnya, kemudian Allah memberikan rizki yang halal sekaligus bergizi
kepada manusia, baik berupa makana pokok, buah-buahan, daging, susu dan
lain-lain. Selain itu Allah memberikan rizki dalam bentuk lain, seperti
warna-warna yang cerah dan menarik, hal ini dapat kita lihat pada
pemandangan yang indah, pakaian yang bagus dan lain-lain. Seperti ayat
yang dipaparkan oleh Allah dibawah ini
Dan
sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di
daratan dan di lautan, kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan
kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang Sempurna atas kebanyakan
makhluk yang Telah kami ciptakan. (QS. Al Isra [17]:70)
Kemudian
Allah menjadikan Bani Adam bisa mengungguli makhluk-makhluk yang lain
dalam berbagai hal, walaupun makhluk itu ukurannya lebih besar dari
manusia, bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa ayat ini merupakan dalil
bahwa manusia itu lebih mulia dari malaikat.
Dari
uraian di atas, kita dapat menangkap bahwa kenapa Allah menggunakan
istilah Bani Adam, karena pada ayat ini Allah akan menjelaskan bagaimana
manusia itu lebih unggul dibanding makhluk manapun, oleh karena itu
penggunaan istilah Bani Adam dapat mempertegas bagaimana unggulnya
manusia dibanding dengan makhluk lain, seperti unggulnya Nabi Adam
dibanding malaikat, dimana malaikat pernah diperintah oleh Allah untuk
memberi penghormatan kepada Adam. Dengan demikian maka konsep manusia
sebagai bani Adam adalah bahwa manusia itu memiliki banyak keunggulan
dibanding makhluk yang lain, sehingga makhluk yang lain tunduk kepada
manusia dan dipersiapkan untuk kemaslahatan manusia sebagai predikat
khalifah dimuka bumi ini. Wallahu a’lam
Biografi Penulis
Faisol lahir pada 26 Juni,
di desa Pondokrejo Glantangan, Jember, adalah anak kedua dari enam
bersaudara, terlahir dari pasangan Muntaha bin Marlia dan Rukayyah Binti
Sholeh, masing-masing sebagai seorang petani dan pedagang.
Pendidikannya ditempuh mulai dari Sekolah Dasar Pondokrejo 3 Kecamatan
Tempurejo Kabupaten Jember, lulus pada tahun 1999.
Melanjutkan ke Mts Raudlatul Iman Gadu Barat Ganding Sumenep pada tahun
1999, lulus tahun 2003, kemudian melanjutkan pada Madrasah Aliyah
Raudlatul Iman Gadu Barat Ganding Sumnep, Lulus tahun 2005, dan yang
terakhir melanjutkan ke S1 STAIN Jember pada tahun 2006 dan lulus tahun
2011. Karya tulis yang pernah di publikasikan yaitu, Gus Dur dan Pendidikan Islam (Upaya Mengembalikan Esensi Pendidikan di Era Global). Di terbitkan oleh Arruzz Media (AM) pada tahun 2011.
Kesibukan dalam keseharian, sebagai Redaktur Pelaksana di 1Wartanusantara.com, Pengurus Koperasi Petani Jamur Nusantara (Kotanimura), dan aktif dalam beberapa kajian, antara lain di forum Indonesian Crisis Center (ICC), Lembaga Kajian Rakyat (LKR),
dan masih banyak lainnya, yang kami kira tidak perlu untuk disebutkan.
Disamping menulis tentang banyak persoalan, terutama pada persoalan
pendidikan, juga menulis novel dan artikel.
[2] agama.kompasiana.com/…/esensi-penciptaan-manusia-sebagai-khalif…
[3] http://kasmaji81.wordpress.com/2008/08/01/surat-an-nas-manusia/
[5] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah pesan, kesan, dan kerahasiaan Al-Qur’an, Jakarta :Lentera Hati, volume : 11, 2003, hal 31-33

0 komentar:
Post a Comment