Dibawah
teriknya sinar mentari, rasa haus dan panas menjalar pada seluruh
pori-pori ditubuh ini, dan perjalanan ini masih jauh untuk sampai pada
tujuan. Pada sisi yang lain kawan dan lawan hampir memiliki perbedaan
yang sangat tipis, semuanya adalah bentuk rekayasa dan sandiwara semata
yang diperankan dengan apik dan manis.
Aku
menghirup dalam-dalam aroma yang menyegarkan dari rangkain bunga
berwarna-warni dalam genggamanku. Ya, aku tidak sedang bermimpi. Aku
bisa mendengar dengan jelas kidung merdu selembut nyanyian surga,
bergaung di dalam ruangan bergaya roma itu. Nyanyian indah para malaikat
mengiringi langkahku untuk maju. Dengan senyum yang tidak akan bisa
luntur, aku melangkah mantap di atas keyakinan suci bersih yang sangat
kau sukai. Aku berjalan di belakang sepasang mungil malaikat cinta, yang
sibuk menaburkan kerlap-kerlip cinta kita.
Aku
berjalan menelusuri lorong-lorong sempit dan terjal, dan masih
terngiang jelas suara indah yang terngiang diselaput gendang telingaku,
katamu engkau hadir akan menjadi penjaga hatiku, katamu engkau hadir
menjadi tiang untuk bersandar, katamu pula, kelemahanku bisa engkau
tutupi dengan kelebihanmu, benarkah demikian? Sementara perubahan sang
waktu bisa merubah dalam hitungan detik.
Dalam nuraniku aku ingin memegang teguh tali Ashadu Allailaha illallah, wa ashadu anna Muhammadar Rosulullah
antara aku, engkau dan Tuhanku, sebagai bentuk ketulusan dan hakikat
dari kehidupan untuk menemukan arah cinta dan ridho Ilahi Robby.
Aku
datang tidak hendak melihat elok rupa yang menawan, atau keindahan
tubuh yang eksotis, tetapi aku datang dengan melihat putihnya jiwamu,
dan aku tiada pernah berhenti untuk menjalin kasih cinta yang suci,
bukan untuk percobaan dan bermain-main belaka, sebab semuanya datang dan
hadir dari yang maha kuasa, dan tiada tempat bagiku untuk menolaknya,
karena engkau nampak jelita duhai embun kesayangan, senyummu tidak pernah lepas menghiasi rona wajah.
Derai
air matamu adalah rasa sakit yang kualami, senyummu adalah bahagiaku
yang tersimpan, suka dan dukamu adalah bagian dari benang sutra dalam
jiwaku, dan setiap kali aku merasakannya, dimanapun aku berada. Wahai
keindahan hatiku, aku ingin menorehkan tinta emas dalam kanvas hidup
kita, menjalinnya dengan ketulusannya jiwa, dan merangkai setiap
momentum dalam kisah yang nyata.
Wahai
adindaku, barangkali aku adalah orang yang jauh dari kesempurnaan,
bahkan aku adalah makhluk hina dan masih dipenuhi dengan dosa-dosa,
namun aku tidak ingin berhenti menjadi orang baik dan yang terbaik
menurutku dan Tuhanku, InsyaAllah Tuhan adalah paling indahnya saksi
dalam ketulusan hati yang tak sempurna ini.
Aku
sangat menyadari kelemahan dan keegoisanku, aku hanya berupaya untuk
jujur dengan apa yang aku rasakan dalam hati, setiap detik bayanganmu
selalu hadir dalam pelupuk dan gejolak hatiku, setiap kali aku berusaha
untuk memalingkan pada persoalan yang berbeda, tetapi hadirmu rasanya
menjadi pelengkap dalam segala kekuranganku.
Wahai
dinda, barangkali ada sesuatu yang mengganjal dalam hatimu, tentang
diriku yang kaku, berulang kali aku meminta maaf dalam hati
kecil…maafkan aku..maafkan aku…maafkan aku, bukan aku ingin ikut campur
dalam segala urusanmu, tetapi ketika aku mengetahui berbagai persoalan
yang engkau hadapi, maka akupun berupaya untuk tidak memejamkan mata,
dengan begitu aku juga ingin merasakan apa yang engkau rasakan, aku
ingin engkau berbagi dalam banyak hal, dan yang paling aku harapkan
adinda bisa berbagi dalam manis dan pahit, suka dan duka, dalam putih
dan hitamnya kehidupan, dan yang terpenting adalah kita saling menyadari
kekurangan dan kelebihan kita masing-masing, dan saling melengkapi satu
sama lain. Tak ada niatan lain, kecuali kejujuran rasa yang kumiliki,
yang ingin kubaktikan dalam naungan cinta Ilahi, hanya bersamamu.
Derai
air mata sebagai symbol kepedihan, sudah berulang kali aku rasakan,
tetapi ada banyak hikmah dibalik semua itu, aku ingin adinda kuat
menjalani semua itu, Tuhan selalu memiliki rencana yang misterius untuk
hamba yang dicintai-Nya, jangan sekali-kali berputus asa dari rahmatnya.
Aku Tercipta Untuk Melengkapi Satu Sama Lain
“Allah tidak akan merubah suatu Kaum, Kecuali kaum itu mau merubahnya” (Ar-Rahman).
Disela-sela
gelapnya malam, angin menjadi selimut kegelisahan, dingin dalam dekapan
malam terasa menjadi ukiran yang indah, dikala mata terpejam, engkau
hadir dalam setiap mimpi-mimpiku, aku ingin segera meraihnya. Duhai
adinda marilah kita buang keegoisan kita masing-masing untuk memahami,
mendalami, dan mengenali dan untuk saling mengetahui, supaya tidak ada
kata penyesalan dikemudian hari. Hadirmu, menyelinap dalam jiwa, tanpa
aku sadari, tiba-tiba cinta itu datang tanpa aku undang, siapa lagi yang
berperan, kalau bukan Tuhan semesta alam. Maka dari itu aku ingin
merajuk kelemahanku menjadi kekuatan, dan itu hanya bersamamu, perempuan
yang aku cinta sayangi, dan menjadi pilihan hidup untuk pertama dan
terakhir kalinya.
Aku
adalah adam-adam, yang gelisahnya tiada tara, dikala ia kehilangan
tulang rusuknya, begitu memuncak kegelisahan itu, sehingga akupun tak
kuasa menahan rindu, dan menjadi gelisah yang berkepanjangan, semoga
kita dapat bertemu dalam naungan ridho-Nya, karena aku hanya ingin yang
halal dan suci, barangkali itulah jalan yang benar dan dikehendaki oleh
Allah.
Jangan
menangis dan bersedih, karena cinta dan kasih sayang adalah kebahagian
semua insane. Disamping itu pula perjalanan ini adalah dinamika yang
harus kita lewati, sebesar apapun ujian dan cobaan, aku hanya ingin
mendakinya bersamamu, hanya denganmu. Semoga keinginan itu selaras
dengan kehendak yang maha suci.
Dalam
setiap waktuku, aku hanya berharap dan memohon untuk mendapatkan
Ridho-Nya, dan aku sangat yakin sekali, engkaulah yang sanggup tuk
berbagi denganku, meski tidak dipungkiri, bahwa perjalanan ini tidak
semudah yang kita bayangkan.

0 komentar:
Post a Comment