Home » , » Agama dan Toleransi Keberagamaan

Agama dan Toleransi Keberagamaan

System kepercayaan dan bentuk dari pemahaman kepercayaan itu, tentu termanifestaskan dalam bentuk tindakan sehari-hari, mengingat agama menjadi penyejuk, penenang dalam membina, mengarahkan dan menjadi ummat yang penuh dengan cinta kasih. Semua agama dan unsure-unsurnya, akan selalu mengajarkan hidup damai, rasa toleransi kepada ummatnya, sehingga agama menjadi pedoman dan aturan yang mengikat bagi pemeluk-pemeluknya.

Akhir-akhir ini tragedy memilukan pecah kembali didaerah sampang-madura, jawa timur, tepat pada hari minggu 26 agustus 2012, yang menelan dua korban tewas, dan 5 orang terluka. Bentrok yang dilatarbelakangi unsure pemahaman keagamaan antar kelompok Syiah dan Ahlussunnah Wal Jama’ah kembali terkuak pada ranah publik, banyak para pihak yang menyayangkan insiden tersebut, mengingat bangsa ini, sudah acapkali diklaim sebagai bangsa yang intoleransi dengan mengatasnamakan agama. Kembalinya tragedy berdarah tersebut menjadi sorotan public yang cukup tajam, karena unsure keagamaan dan keberagaman menjadi factor yang cukup sensistif, sementara pada sisi yang lain, bahwa factor keagamaan teramatlah kuat mempengaruhi terhadap pemahaman dan keyakinan dari masing-masing kelompok.

Berangkat dari anak didik dari kelompok Syiah yang hendak diberangkatkan untuk menuntut ilmu ke jawa tengah dan daerah bangil, ditengah perjalanan kelompok syiah dihadang oleh sekelompok masyarakat yang mengatasnamakan kelompok sunni atau ahlussunnah wal jama’ah, kemudian kelompok Syiah diarak sampai kekampung halamannya oleh kelompok sunni, disitulah kemudian terjadi pergolakan antara dua kelompok mayoritas dan kelompok minoritas.

Menurut Guru Besar Unversitas Muhammadiyah Malang, Syamsul Arifin, Bahwa dalam setiap konflik yang melibatkan dua kelompok agama dan paham keagamaan, variabel agama selalu hadir didalamnya. Variabel itu adalah dialektika antara agama sebagai doktrin dan agama sebagai konstruksi, yakni agama sebagaimana dipahami oleh para pemeluknya. Sementara itu antara doktrin dan pemahaman terhadap doktrin adalah dua hal yang sulit untuk dipisahakan satu sama lain. Kendati agama bersumber dari realitas absolute yang tunggal (Tuhan), toh dalam realitas sejarah dan social, agama telah hadir dalam beragam bentuk seperti yang terlihat dalam banyaknya (nama) agama dan paham keagamaan. (Jawa Pos, Rabu, 29 agustus 2012, Hal. 04). Doktrin agama dan doktrin tentang pemahaman keagamaan inilah yang kemudian suatu kelompok memiliki pandangan dan keyakinan berbeda antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain. Dua kelompok yang berbeda satu sama lain, pada hakekatnya memiliki argumentasi yang kuat dalam menjalankan aktivitas keber”agama”an dan paham keagamaannya, sehingga disitulah kemudian adanya Truts claim, kelompok yang satu dengan kelompok yang lainnya. Dalih pembenaran yang dilontarkan oleh kelompok yang satu dengan kelompok lain, tentu memiliki alasan kuat dalam perbedaannya, sehingga hal itu mengandung dua sisi yang controversial.

TOLERANSI PEMAHAMAN KEAGAMAAN

Agama secara universal dipahami sebagai bentuk kepercayaan yang diyakini datang dari Tuhan dan bersifat absolute, sehingga termanifestasikan dalam doktrin pemahaman pemeluknya dan terintegralisasi dalam aktvitas sehari-hari. Dampak dari semua itu adalah saling pembenaran pada setiap kelompok dengan masing-masing pemahaman yang beragam. Secara esensial agama khususnya Islam, tetap yang menjadi pedoman adalah al-qur’an dan al-hadis. Dua pusaka tersebut secara menyeluruh menjadi pedoman dalam menjalankan peraturan yang terkandung didalamnya, sementara itu perbedaanya adalah terletak pada penafsiran dan pemahaman dari masing-masing kelompok yang berseteru, sehingga anggapan yang muncul baik dari kelompok mayoritas dan kelompok minoritas adalah claim kebenaran yang masing-masing ditonjolkan, karena hal itu menjadi sebuah keyakinan yang sangat sensitive keberadaannya.

Sunny dan Syiah adalah dua kelompok yang bisa hidup berdampingan pada hakekatnya, cuman ketika perbedaan antar perseorangan yang kemudian dibombardir dengan mengatasnamakan isu agama, inilah yang kemudian tidak dibenarkan oleh kelompok manapun, sehingga sangat naïf, perbedaan pribadi yang disangkutpautkan atas nama agama, yang berdampak pada sisi humanisnya.
Sejumlah tokoh sangat menyayangkan tragedy yang hanya dipicu oleh dua bersaudara, yaitu Tajul Muluk yang berpaham Syiah, dan Rois yang berpaham Sunni. Berangkat dari konflik pribadi itulah yang kemudian diatasnamakan kelompok, sehingga terjadilah bentrok untuk kesekian kalinya.
Pentingnya toleransi dan pemahaman keagamaan antar dua kelompok yang bersitegang, menjadi keharusan untuk menjaga harmonisasi dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan beragama, sehingga akan tercipta suatu kerukunan antar perbedaan yang akan menuai keindahan dalam keberagaman. “Tragedy yang terjadi di Sampang Madura, diminta kepada jajaran penegak hukum, baik kepolisian, kejaksaan, mahkamah agung, untuk benar-benar menegakkan hukum secara tegas dan adil. Kalau tidak tegas dan adil, itu memancing hal serupa dimasa yang akan datang”. papar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). (Kompas, Selasa, 28 Agustus 2012). Oleh karenanya semua unsure dalam proses penegakan hukum harus benar-benar dituntaskan, dan pelaku terhadap mencuatnya tragedy tersebut harus diadili dan dihukum sesuai dengan perbuatan provokatifnya dalam mengarahkan massa, sehingga terjadi bentrok berdarah. Hal yang demikian perlku untuk diantisipasi sejak dini, sehingga kedepan tragedy yang serupa tidak terjadi lagi dibelahan nusanatara ini.

Untuk mengantisipasi hal serupa terulang kembali, Pertama meningkatkan rasa toleransi antar dua kelompok yang bersitegang, Kedua meningkatkan pemahaman pada masing-masing kelompok, bahwa agama bukanlah untuk melakukan anarkisme, seperti yang terjadai pada waktu kemarin. Ketiga agama atau system kepercayaan yang bersumber dari Tuhan yang maha kuasa, bukanlah barang jualan yang kemudian dijadikan alat untuk mencapai ambisi politik mupun kekuasaan, namun agama adalah seperangkat keyakinan untuk penyejuk jiwa, dan menenangkan batiniah seseorang. Kelima semua pihak yang terkait maupun yang bertanggung jawab atas tragedy tersebut, untuk menyegerakan berupaya dalam proses penyadaran pada semua unsure yang bersitegang, bahwa agama bukanlah barang mainan, yang seenaknya dijadikan bahan isu maupun fitnah bagi kepentingan-kepentingan satu, maupun segelintir orang. Faisol
Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Creating Website

0 komentar:

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Faisal Akhmad | Mas Template
Copyright © 2011. JavaNews - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger