Dalam
sebuah perjalanan yang penuh dengan rintangan dan hiruk pikuk kehidupan
dunia ini, amatlah penuh dengan canda tawa, dan isak tangis yang
membuyarkan kebekuan. Indahnya sang malam turut pula menemani
kegelisahan hati yang menjadi pemandu keinginan suci. Hidup itu
sesungguhnya penuh dengan warna, dan manusialah yang mewarnai, sehingga
Tuhan mengutus kita sebagai ummat manusia dalam rangka memperindah
lukisan Tuhan dalam kanvas keabadian.
Detik
berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti
minggu, dan minggu berganti bulan, semuanya berjalan dengan system yang
telah ditetapkan sebelum keberadaan makhluk Tuhan yang paling seksi ini.
Ayat-ayat
itu sudah terlalu penuh di baca setiap saat, namun ketidak tahuan dan
keterbatasan akal untuk menjangkau amatlah naïf, sementara itu tindakakn
dan pikiran pada substansinya adalah satu.
Tiada
kata yang indah selain memuja_Nya dalam setiap detik dan hiasan cinta.
Aroma nafas dalam langkah nyata terus mengalir bak air nil, terasa bulu
kuduk ini merinding semua, dikala mengingat hamparan keindahan cinta-Nya
yang ditunjukkan pada semesta.
Sudah
banyak yang memahami dan mengetahui bahwa kita semua adalah makhluk
yang hina dan nista, karena bahan yang dijadikan diri ini, hanyalah
setetes mani dan kawin dengan ovum. Pertemuan dua bahan itulah yang
terus berkembang hingga menjadi. Sementara pada proses sang waktu dua
bahan itu berkembang menjadi segumpal darah, menjadi tulang belulang,
dan menjadi manusia yang utuh, dikala Tuhan meniupkan sebagian ruh-Nya
pada diri, maka kita bisa melihat, mendengar, dan berbahasa.
Masih
belum aku dengar syahadat cinta yang murni dan tulus dalam jiwa ini,
yang ada hanyalah keluh kesah setiap saat, seringkali diri ini hanya
memohon untuk kepentingan diri, bersimpuh supaya dikasih.
Kita
adalah makhluk yang bertanggung jawab, itu adalah bentuk persaksian
yang harus dilakukan dalam bentuk tindakan. Dua syahadat tidak cukup
hanya diucapkan dalam bentuk kata-kata, namun syahadat adalah
kesungguhan hati untuk merasakan kehadiran Ilahi pada setiap sisi dalam
hidup, dilakukan dengan penuh cinta, bukan sekedar hura-hura.
Ketabahan,
kesabaran, keikhlasan, cinta kasih setiap manusia sudah punya bekal
masing-masing, akan tetapi, kapasitas yang dimiliki pada masing-masng
insane tidaklah sama keberadaannya.
Alam
jagad raya beserta isinya, senantiasa bertasbih memuji keagunganmu,
tidak ada satupun yang tidak menyebut engkau, sekalipun itu makhluk yang
tidak mengaku bertuhan, sebab cinta dan kasih mereka acapkali masih
dikendalikan oleh hawa nafsu yang bejad.
Maha
suci allah yang menciptakan bumi,langit seru sekalian alam.siapa yg
merasa bertakwa kepada Allah, beriman kepada Allah, lisannya, lidahnya
serta tingkah lakunya selalu bertasbih, bertahmid, dan bertakbir kepada
Allah. kita manusia sebagai hamba Allah wajib menjalankan perintah2nya
dan menjauhi larangan-larangannya. mari kita lantunkan kalimat tasbih,
tahmid kita. benarkah kita masih termasuk orang yang bertakwa
“subkhanallah wal khamdulillah wala ila ha ilallah wallahu akbar”
masihkah hati kita bergetar tatkala mengucap asma allah, masihkah ada
tetesan air mata saat kita bertasbih? Masihkah ada rasa sombong dan
angkuh tatkala kita merasa sebagai hamba yang lemah. dan masihkah kita
merasa telah menunaikan kewajiban kita sebagai seorang hamba? insyaallah
masih ada waktu sebelum ajal menjemput, insyaallah masih bisa bertaubat
sebelum kedatangan malaikat maut. kenapa kita gak berusaha mencoba,
sebelum masuk kedunia gelap yaitu liang lahat.
Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. QS. Al Hasyr (59)
Allah tidak membedakan makhluk satu dan yang lainnya. Semuanya disebut sedang bertasbih kepadaNya. Sabbaha lillahi maa fissamaawati wa maa fil ardhi. Semua yang di langit dan semua yang di bumi.
Dalam
beberapa ayat lainnya Allah menyebut secara spesifik makhluk yang
bertasbih itu. Di antaranya adalah halilintar dan guruh. Di ayat lainnya
lagi, Allah menyebut gunung melakukan tasbih bersama nabi Daud.
Dan
guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) para malaikat
karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu
menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan mereka
berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dia-lah Tuhan Yang Maha keras
siksa-Nya. QS. Ar Ra’d (13) : 13
Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) di waktu petang dan pagi. QS. Shaad (38) : 18
Maka
Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum; dan
kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu dan telah
Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama
Daud. Dan Kamilah yang melakukannya. QS. Al Anbiyaa (21) : 79
Dan
yang lebih dahsyat lagi, bukan cuma benda-benda pengisi alam semesta
saja yang bertasbih, melainkan langit yang tujuh dan bumi, semuanya
bertasbih kepadaNya. Artinya, sama sekali tidak ada yang tidak bertasbih
kepadaNya. Seluruh yang kita anggap benda mati itu sedang bertasbih.
Sayang kita tidak mengerti apa yang mereka tasbihkan.
Langit
yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah.
Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu
sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia Maha Penyantun
lagi Maha Pengampun. QS. Al Israa (17) : 44
Memang,
kita harus membangun kepahaman yang berbeda antara tasbihnya manusia,
binatang tumbuh-tumbuhan, dan benda-benda lainnya. Masing-masing
bertasbih dengan caranya sendiri. Tidak selalu dengan mengucapkan
subhanallah seperti kita. Namun demikian, mereka juga disebut bertasbih
dan bersembahyang kepada Allah.
Tidakkah
kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan
di bumi dan burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah
mengetahui sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang
mereka kerjakan. QS. An Nuur (24) : 41
Jadi
burung mengembangkan sayap itu adalah salah satu bentuk dari sembahyang
dan bertasbih, mengagungkan Allah. Guntur bergemuruh dan halilintar
menyambar itu juga bentuk tasbih dan sembahyang mereka kepada Allah.
Oh….Gusti
yang maha suci, seringkali kami lalai dalam banyak hal, rasa iri,
dengki, dendam, sudah sering menyelimuti, bahkan lebih ironis lagi,
setiap detak nafas dan langkah perbuatan kita semua sering ingkar
terhadap janji-janji yang sulit untuk ditepati. Acapkali kita membual,
berkata kosong, dan sia-sia. Sudah saatnya taubatan nasuha itu harus
kita lakukan, karena balasan dari engkau Gusti yang maha suci, amatlah
pedih keberadaanya.
0 komentar:
Post a Comment