Mentari
pagi dengan senyum cintanya, menerangi cakrawala, sampai pada dunia,
dimana tempat ini berpijak, melakukan aktivitas sehari-hari, seakan
tiada beban untuk hari esok. Kehidupan didunia ini adalah kefanaan dan
titipan, tidak ada yang abadi, kecuali yang maha abadi. Kapanpun,
dimanapun, bersama siapapun pastilah ajal akan menjemput ketika sampai
pada waktunya.
Romantika
hidup yang penuh dengan ujian dan pertanyaan-pertanyaan yang datang
silih berganti tiada henti, namun kita sebagai makhluk yang diciptakan
harus tetap bersyukur dan memohon perlindungan_Nya. Ujian dengan
datangnya pertanyaan yang muncul dalam diri, sesungguhnya adalah proses
mencari jawaban, baik datangnya dalam diri kita sendiri, maupun datang
dari luar yang mempunyai kekuatan yang maha dahsyat. Kehdupan ini tak
ubahnya seperti seslembar kertas kosong yang seakan tiada makna, tinggal
bagaimana kita sebagai makhluk yang bertanggung jawab mampu melukiskan
hidup dalam kanvas keindahan dan kebaikan.
Ketika
malam yang sunyi menghampiri, tak pelak lagi rasa kantuk dan dingin
juga menyelimuti, dunia ini adalah tempat kita bermain dan bersenda
gurau, karena semuayang ada hanyalah titipan belaka, tak terkecuali diri
yang papa ini.
Proses
pencarian makna dan hakekat hidup sesungguhnya tidak hanya
diperuntukkan pada Ibrahim alaihis salam, namun pencarian itu pada
hakekatnya adalah diperuntukkan pada semua makhluk yang bernyawa ini
dengan kadarnya masing-masing. Ibrahim, kisah Musa dan Khaidir adalah
contoh yang di paparkan dalam kitab suci, yang mencari makna dan hakekat
dalam diri. Pencarian jati diri itu berlaku pada siapapun yang berupaya
untuk mengenali, mau mengerti, dan memahami tentang makna hidup yang
hakiki.
Ayat-ayat
yang tersurat tentang nabi Ibrahim As mengenai pencarian hakekat dalam
hidup, antara diri dan robnya, seperti yang tertera dibawah ini:
“Ketika
malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata:
“Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata:
“Saya tidak suka kepada yang tenggelam.” (QS. Al-An’am : 75 ).
Bintang
juga merupakan makhluk yang diciptakan, ia juga masih bergantung pada
Tuhannya, ia juga berdzikir dan memohon pada Tuhannya untuk menjadi
tanda-tanda bagi kehidupan manusia. Dari bentuk dan simbolisasi yang
disepakati oleh manusia berbentuk segi lima, sebagai sebuah simbol bahwa
latihan membasuh diri terdiri dalam lima waktu yang terangkum dalam
sholat. Dari proses pencarian itu muncullah ilmu falak, dengan melihat
bintang manusia mengetahui tentang banyak hal. Dan ketika bintang itu
terhempas oleh siang, maka sinarnya tertutup oleh sinar mentari yang
lebih besar.
“Kemudian
tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. tetapi
setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku
tidak memberi petunjuk kepadaku, Pastilah Aku termasuk orang yang
sesat.” (QS. Al-An’am : 77 ).
Bagaimana
sang rembulan bisa tersenyum ketika awan menghitan menyelimuti,
bagaimana ia menampakkan wajahnya yang elok tatkala siang datang
menghampiri. Itu semua merupakan perubahan sistem alam yang bersifat
baharu, dan akan musnah keberadaannya.
“Kemudian
tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, Ini
yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai
kaumku, Sesungguhnya Aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.
(QS. Al-An’am : 78 ).
Matahari
adalah bagian dari sistem alam yang berperan menghidupi dan menyinari
seluruh jagad alam raya tanpa ada diskriminasi ataupun pilih kasih
diantara salah satunya. Karena matahari juga tunduk pada penciptanya.
Matahari bergerak sesuai dengan perintah, disini perintah Tuhan sudah
menjadi sistem alam yang bergerak secara continuitas.
Ketika
malam datang, matahari mulai tenggelam dalam ufuk rotasi bumi, matahari
kembali keperaduannya, dan iapun tidak lagi menyinari bumi yang kita
pijak, namun matahari juga bekerja secara misterius pada belahan bumi
sebelahnya.
Kembali
merenungi sebuah peristiwa dalam keseharian, betapa yang maha kuasa
bekerja dengan sangat msterius, sehingga nafsu-nafsu yang bergejolak
seringkali tidak menerima dengan kenyataan yang sesungguhnya.
“Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, Sesungguhnya Aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya
Aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi,
dengan cenderung kepada agama yang benar, dan Aku bukanlah termasuk
orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS al-An’am : 78-79).
Pencarian
mengenai yang maha hidup sesungguhnya terangkum dalam setiap diri, dan
setiap diri haruslah berupaya untuk mencarinya. Banyak orang selalu
mempertanyakan tentang alam semesta dan Tuhannya. Karena tidak tahu
terhadap diri, maka banyak yang tersesat, dan memilih jalan yang sesuai
dengan hawa nafsunya.
Wahai
Gabriel yang menyampaikan pesan Tuhan, Mikail, Isrofil, dan Izroil,
kalian adalah saudara dan sahabat yang paling jujur dalam dunia ini,
kalian adalah obor yang ada dalam diri, dan kalian pula yang menunjukkan
jalan menuju pulang.
Pada malam itu, berkisar jam 21 malam, duduk bersama diteras depan rumah. Ada Roy, Azhari, Rahmah, Az-Zahroh, Boby, dan Nia.
Dikala duduk bareng dalam suasana kebersamaan, tiba-tiba Rahmah nyeletuk membuka pembicaraan.
‘‘Rahmah
mengatakan kita semua yang duduk disini ini sudah menetapkan diri
sebagai seorang muslim, dan aku masih belum tahu, bahwa kita ini adalah
orang muslim yang model seperti apa?. Suasana dialog pun terjad malam
itu:
‘‘Boby
pun tidak tinggal diam „kita memang muslim Rahmah, tapi kita itu muslim
keturunan dari bapak dan ibu, seandainya kita keturunan yahudi
barangkali kita tidak seperti ini. Terbersit dalam dipikiran, kita
muslim tapi jarang mengikuti ajarannya kenapa ya?
‘‘Rahmah
dengan tegas menyatakan diri, aku wes yang jadi moderatornya, ayo Roy
lawan si boby itu. Ya aku masuk kata Roy . menambahkan.
Eh Bob, kamu itu muslim bagaimana, wong kamu ngak pernah sholat, muslim itu kewajibannya melaksanakan sholat 5 waktu.
Boby “memang ia Roy, kamu tahu apa makna dibalik perintah sholat? Wah itu ngak usah dibahas
.
“ Dari dulu sampai sekarang sholat ya seperti itu, jawab Roy.
‘‘Tidak
sesederhana itu Roy, pengertian Sholat, sebab pengetian sholat tidak
hanya sebatas sebuah gerakakn yang kita lakukan mulai dari takbirotul
ihrom dan berakhir dengan ucapan salam, cukup naif Roy, jika kita
memaknai Sholat hanya sebatas itu, berarti keilmuan kita tidak
berkembang dong, katanya modern, apa ngak lebih modern orang-orang
terdahaulu, misal al-ghazali dengan karya fenomenalnya,
ibnu arabi dengan konsep ketuhanannya, sementara sekarang, para ilmuan
yang hampir menyamai mereka itu siapa? Nah itu indikasi bahwa terjadi
proses penurunan dalam khazanah perkembangan keilmuan Roy.
Perdebatan
pun mulai memanas pada waktu itu, meski dengan tema yang biasa didengar
setiap hari, namun tema yang diangkat cukup esensi dalam kehidupan
sehari-hari.
Suasana
semakin sunyi perdebatan antara Boby, Roy, Rahma, Azhari, Nia, dan
Az-Zahroh, semakin memanas, sesekali dibarengi dengan canda tawa yang
menambah suasana persaudaraan semakin kental didalamnya.
“Disuasana
hening, Rahmah memulai pembicaraan “menurut tanggapan pak Azhari,
seharusnya bagaimana kita sebagai seorang muslim? Karena saya melihat
banyak problem yang terjadi didalam organ tubuh orang-orang muslim itu
sendiri, apakah harus diam dengan kondisi yang seperti ini?.Azhari
menjawab, kita sebagai muslim dan mengakui serta menyaksikakn kebenaran
dari ajaran Islam itu tidak harus tinggal diam, apa yang bisa kita
perbuat hari ini dan masa yang akan datang mari kita lakukanlah. Dan
untuk melakukan sesuatu tidak harus menunggu siapapun. Karena sudah
jelas, kita punya panduan hidup, yaitu Al-Qur’an, tinggal bagaimana kita
memahami dan melaksanakan isi kandungan al qur’an, baik yang tersirat
maupun yang tersurat didalamnya, bukan begitu pak boby?
Boby „bener itu, tapi kalau cuman sebatas teori apalah guna,“
Rahmah menyela, menurut Nia, Zahroh, dan Mas Roy gimana, monggo ditanggapi pernyataan bobi.
Roy
“secara konseptual sangat perlu, sebagai landasan dalam langkah dan
tujuan hidup, teori ataupun konsep yang terkandung dalam al-qur’an harus
betul-betul dipahami dan dilaksanakan dalam bentuk tindakan“. Betul itu
Roy,…boby membenarkan. Tapi problemnya sekarang justru bertanya-tanya
terhadap tindakan manusia dalam banyak hal, dan para pelakunya rata-rata
muslim. Misal dalam tata kehidupan bernegara, mengapa banyak para
koruptor, bahkan terlembagakan, yang artinya korupsi berjemaah, bahkan
ironisnya diturunkan pada generasi penerusnya, nah,,jika kaitannya
dengan konsep sholat, yang katanya mencegah perbuatan nahi dan mungkar,
kenyataannya, sholat jalan, korupsi juga jalan. Sekarang seperti ini Roy
„kalo sholat bareng-bareng maka akan mendapatkan banyak pahala, akan
tetapi, jika korupsi bareng-bareng, apakah akan mendapatkan dosa yang
lebih pula..karena hal itu merupakan dosa yang berjemaah, dan didalam
Islam sendiri itu tidak pernah dibenarkan.
Malam
pun semakin larut, rasa kantuk, dingin terus menyelimuti, burung-burung
masih tetap dalam sangkarnya, ketidak bebasannya membuat ia tidak
berdaya, seakan keinginan dalam gelombang perasaannya menjadi alunan
kepedihan yang terlena dalam buaian mimpi.
Hidup
terus mengalir bak air dalam parit ang indah, kicau burung menemani
pagi dalam hangatnya kerinduan, dan membiarkan semua berlalu lalang
seperti ombak yang tersapu angin.
Dalam
perjalanan pulang, ditengah malam, setelah selesai dari diskusi si Boby
berjalan, sambil bertanya-tanya dalam dirinya, entah kemana? Dan sampai
dimanakah titik pencarian yang harus kulalui“? masih sering terjaga
ditengah malam, entah apa yang merasuk dalam pikiran dan hati,.masih
terasa semraut dengan adanya hidup ini, akan tetapi apapun yang terjadi
haruslah ikhlas dan bersyukur pada sang maha suci, karena itu tujuan
hidup yang harus ditempuh, sementara yang lain adalah piranti-piranti
yang melengkapi diri untuk menuju pada-Nya. Masih betapa gelapnya
pandanganku tentang hidup ini“ seru boby dalam hati.
Waaaah“ enaknya tidur dulu nih‘ dengarkan suara badan yang cukup letih ini, pikir boby dalam hati.
Ternyata
tidak semua bisa dipahami, dan tidak semua harus memahami, tentang
cinta, kasih sayang, keinginan, dan pertautan antara hati, pikiran dan
fisik….waduh semuanya harus melebur menjadi satu, dan mendengarkan
nyanyian hati dalam gemuruh ombak. „“ya Ilahi, aku tahu engkau tidak
akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu mau merubahnya sendiri“ .
apakah kemudian semua bisa berubah sesuai dengan keinginan kita?
Akankah tanda dan tanya yang bergelimang dalam pikiran menjadi sebuah
jawaban yang seringkali masih belum tentu arah? Boby terus berpikir dan
merenung ditengah kesunyian malam, tanpa ada kawan dan teman yang
menemani. Tuhan aku ingin berteriak sepuas hatiku, namun ini masih larut
malam. Sambil lalu menunggu pagi, aku duduk dalam kegelisahan hati,
tanpa terasa suara sumbang dalam jiwa melukiskan huruf-huruf kegelisahan dalam ruang dinginnya malam:
rasanya tak ada waktu untuk bermain-main.
seperti dulu waktu masih kecil.
mungkin saja aroma kerinduan itu masih terlukis jelas dalam dada.
tapi hati masih tertutup.
subhanallah.
maha suci engkau diatas segalanya.
semuanya terlukis jelas dikanvas itu.
tulisan yang indah nan jernih diselembar lauhun mahfud-Mu.
kadang aku mulai terhenyak,,,dan kadang tersentak pula.
bahwa realitas yang sesungguhnya bukan disini.
suara seruling,digubuk bambu.
menambah keindahan jiwa.
bermesraan dengan alam.
semuanya adalah bagian dari kuasamu.
yang tak mungkin tuk kutinggalkan.
Allah aku ingin selalu tersenyum..
itu yang ku mau…
aku tak peduli….
kata yang tak seharusnya menjadi arti…
terpenting hidup menuju yang maha suci…
meski dalam lembah kenistaan…menurut mereka….
namun keyakinan itu harus terus diperjuangkan….
aku yakin…
Aku selalu dalam selimut rahman dan rahim-Mu…
ditengah
kesunyian, ketika mata enggan untuk terlelap, kudengar ayat-ayat dari
kejauhan, dibalik kabut embun yang masih tebal yang artinya:
“Orang-orang
yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman
(syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah
orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. al-An’am : 82).

0 komentar:
Post a Comment